Matinya Rasa Kemanusiaan

Ilustrasi: Boko Haram meluncurkan operasi militer pada tahun 2009 untuk mendirikan negara Islam. - BBC
Boko Haram meluncurkan operasi militer pada tahun 2009 untuk mendirikan negara Islam. – BBC

TERORISME, memang, bukan fenomena baru dalam sejarah manusia. Kekerasan sudah digunakan manusia sejak awal mula dunia ada.

Dari sejarah kita mengetahui bahwa mula-mula, teror digunakan sebagai bentuk perlawanan terhadap negara, terhadap raja, terhadap penguasa. Negara yang menindas, raja yang lalim, penguasa yang tiran, itulah yang dilawan.

Akan tetapi, dalam perkembangannya, teror digunakan sebagai bentuk tindakan untuk menyerang pihak lain yang dianggap tidak sealiran. Dan kini, terorisme juga digunakan sebagai alat untuk perjuangan ideologi, mewujudkan cita-cita sebuah kelompok.

Dua tujuan utama terorisme, mengutip pendapat Robert A Pape dalam Dying to Win(2005), adalah pertama, untuk mendapatkan dukungan. Dan, kedua, untuk memaksa pihak lawan. Kebanyakan teroris melakukan aksi mereka untuk kedua tujuan tersebut secara bersamaan. Tujuan tersebut dicapai dengan cara “destruktif”, “demonstratif”, dan “terorisme bunuh diri”.

Hari-hari belakangan ini, masyarakat dunia diusik oleh aksi teror yang menelan banyak korban jiwa. Di Tripoli, Lebanon, hari Sabtu, dua pengebom bunuh diri meledakkan bom di sebuah kafe, dan menewaskan sembilan orang serta melukai 37 orang lainnya. Pada hari yang sama, di Maiduguri, Nigeria timur laut, milisi Boko Haram menggunakan anak perempuan berusia 10 tahun sebagai senjata penyerang—dijadikan pelaku bom bunuh diri. Aksi tersebut menewaskan 19 orang.

Sebelumnya—ini yang menarik perhatian dunia dan mendorong para pemimpin dunia bersatu padu turun ke jalan di Paris melakukan aksi perlawanan terhadap aksi terorisme—dua orang bersenjata menyerang kantor majalah Charlie Hebdo, Rabu pekan lalu. Aksi brutal itu menewaskan 12 orang, termasuk empat kartunis.

Pertanyaan sederhananya adalah mengapa prinsip “tujuan menghalalkan cara” masih mendominasi atau paling tidak dipegang teguh oleh sejumlah kelompok dalam “perjuangannya”? Atau mungkin lebih tepatnya, dilakukan untuk melampiaskan rasa benci, balas dendamnya? Apakah cara-cara seperti itu akan menyelesaikan masalah atau justru sebaliknya?

Apa pun alasannya, menghilangkan nyawa orang lain dengan cara apa pun tidak bisa dibenarkan. Akan tetapi, ini yang memprihatinkan, jalan kekerasan banyak dipilih untuk mencapai tujuan. Kekerasan—yang terungkap dalam sikap doktriner, otoriter, eksklusif, dan kekerasan fisik—merupakan jalan yang paling pendek untuk memutlakkan suatu pandangan atau penafsiran.

Jalan seperti itu tidak akan menghasilkan apa-apa kecuali rasa permusuhan. Dan, jalan itu hanya membuktikan bahwa rasa kemanusiaan sebagai manusia itu sudah tidak ada, atau sekurang-kurangnya menipis. ***

 

Sumber: Kompas, Tajuk Rencana, 13/1/2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s