Bangunan Permanen Saja Bisa Ambruk, apalagi Koalisi…

Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie (kanan) mewakili ketua-ketua parpol pendukung menyerahkan piagam Koalisi Merah Putih Permanan kepada calon presiden nomor urut 1 Prabowo Subianto di Tugu Proklamasi, Jakarta Pusat, Senin (14/7/2014). Ketua dan Sekjen Partai Politik pendukung pasangan Prabowo-Hatta yaitu Gerindra, PKS, PPP, Golkar, PBB, PAN, dan Demokrat, untuk menguatkan komitmennya menandatangani nota kesepahaman Koalisi Permanen mendukung Prabowo-Hatta. - KOMPAS
Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie (kanan) mewakili ketua-ketua parpol pendukung menyerahkan piagam Koalisi Merah Putih Permanan kepada calon presiden nomor urut 1 Prabowo Subianto di Tugu Proklamasi, Jakarta Pusat, Senin (14/7/2014). Ketua dan Sekjen Partai Politik pendukung pasangan Prabowo-Hatta yaitu Gerindra, PKS, PPP, Golkar, PBB, PAN, dan Demokrat, untuk menguatkan komitmennya menandatangani nota kesepahaman Koalisi Permanen mendukung Prabowo-Hatta. – KOMPAS

 

Catatan Kaki Jodhi Yudono

Don tampak serius di depan laptop saat saya datang ke rumahnya di pinggiran Jakarta malam tadi. Sepulangnya dari kantor, iseng saya mampir. Siapa tahu masih ada makanan sisa buka puasa yang bisa saya santap, he-he-he…. Tetapi, harapan saya pupus saat melihat meja makannya kosong melompong. Saya pun jadi mafhum akan status karib saya yang jomblo itu. Alih-alih menyediakan makanan buat orang lain, kadang untuk membuat makanan untuk dirinya sendiri saja malas. “Mendingan beli matengan, simpel,” katanya suatu ketika.

Don tidak mempersilakan, juga tidak mengusir ketika saya datang.

“Bikin minum sendiri ya. Kalau mau pakai sirup, ada di kulkas. Kalau mau kopi atau teh, ambil di tempat biasa,” ujar Don tanpa menoleh dari laptopnya.

“Berita apa yang lagi ramai, Don?” tanya saya setelah mengambil sebotol air mineral dingin dari kulkas.

“Banyak. Ada soal RRI yang mau dipanggil Komisi I DPR RI. Ada kekhawatiran bakal terjadi perang bandar, eh perang Badar. Ada juga soal koalisi permanen.”

Gimana menurutmu tentang koalisi permanen?”
“Bangunan permanen aja bisa ambruk, apalagi ini cuma koalisi. Satu anggota enggak nyaman, ya robohlah koalisinya,” Don menjawab sambil lalu.
Trus bakal bertahan sampai berapa lama kira-kira?”

Sambil menjawab, mata Don masih tetap terpaku pada layar laptop. Lalu dia pun bicara panjang lebar. Katanya, mana ada di dunia ini yang abadi, apalagi ini cuma koalisi. Pastilah pasti cuma sementara sifatnya. Kelak, pada satu titik, ketika para anggota koalisi merasa sudah tidak sehati, koalisi pasti akan berhenti, lantas bubar jalan dan mencari penghidupannya sendiri-sendiri.

Mana ada koalisi yang permanen, sedangkan hati manusia gampang berubah. Bahkan kesepakatan yang dituangkan ke dalam aturan hingga undang-undang pun, dengan gampang bisa ditekuk dan dibengkokkan.

Bayangkanlah, lanjut Don, sehari sebelum koalisi terjadi, sementara pihak pun sudah mulai meragukan kepermanenan koalisi tersebut. “Baca nih pernyataan anggota Fraksi PDI Perjuangan DPR, Helmy Fauzi. Dia bilang, konstelasi politik sebentar lagi akan bubar. Ini tinggal tunggu waktu saja.”

“Tetapi, sebagai wacana tentu boleh-boleh saja, kan? Setidaknya, untuk sementara waktu bisa menguatkan hati para anggotanya bahwa mereka tidak sendiri dalam mengejar cita-cita. Atau dalam bahasa juru bicara Prabowo-Hatta, Tantowi Yahya, koalisi permanen itu untuk memperkokoh partai politik yang tergabung dalam Koalisi Merah Putih dengan melakukan penandatangananmemorandum of understanding (MoU) atau nota kesepahaman sebagai bukti kekompakan Koalisi Merah Putih,” kata saya membahas pernyataan Don.

“Atau, kalau kita menyitir pernyataan Tim Pemenangan Nasional Prabowo-Hatta, Marwah Daud Ibrahim, deklarasi koalisi permanen Merah Putih dilakukan sebagai bentuk untuk memperkuat ikatan dan memperkuat komitmen serta keyakinan tim akan kemenangan,” imbuh saya.

“Jika benar mereka kompak, sebetulnya kekompakan mereka demi apa? Aku sepaham dengan pengamat politik Charta Politika, Yunarto Wijaya. Koalisi permanen yang dibangun oleh Koalisi Merah Putih tidak lebih hanyalah bertujuan untuk menginginkan kekuasaan. Hal tersebut dikarenakan koalisi ini dibentuk hanya berdasarkan basis kekuatan di parlemen.”

“Menurut Marwah Daud sih enggak begitu. Politisi Golkar itu mengatakan, koalisi permanen ini bukan hanya di tingkat elite, tetapi sampai dengan relawan di tingkat akar rumput.”

“He-he-he… Benarkah? Aku enggak percaya. Ingat, Bung, di sana berkumpul banyak keinginan. Ente tahu sendiri, semakin banyak keinginan, semakin sulit dipersatukan. Apalagi nanti sehabis tanggal 22 Juli, akar rumput pasti akan lebih realistis. Lebih-lebih kalau jagoan mereka kalah dalam pertandingan pilpres. Mereka pasti kabur, dan kembali disibukkan oleh kegiatan mereka sebelum pilpres berlangsung.”

“Kok sinis banget, bobotoh-nya Jokowi ya?”
“Situ juga terkesan membela koalisi permanen, pendukungnya Prabowo ya?”

Ha-ha-ha… kami pun meledak dalam tawa. Bagi kami, tak penting membela siapa, yang paling penting kami masih bisa leluasa berbicara tentang apa saja, tanpa dibatasi oleh pilihan politik kami. Lebih dari itu, kami benar-benar menikmati peristiwa lima tahunan ini dengan riang gembira. Kebetulan saja, malam ini kami tertarik membicarakan koalisi permanen yang dibangun oleh kubu Prabowo.

***

Selanjutnya Don bercerita mengenai suasana deklarasi yang dihadiri oleh calon presiden Prabowo Subianto dan calon wakil presiden Hatta Rajasa. Saat itu, turut hadir pula Ketua Tim Pemenangan Prabowo-Hatta, Mahfud MD, dan sejumlah ketua umum partai Koalisi Merah Putih.

Don yang sejak awal sudah pesimistis koalisi permanen itu akan permanen pun berucap, Don bilang, “Sebelum ayam jantan berkokok”, paduan suara anggota koalisi pun sudah mulai sumbang suaranya. Koalisi Merah Putih yang berisi Gerindra, Golkar, PAN, PKS, PPP, dan PBB yang berkumpul di Tugu Proklamasi, Jakarta Pusat, pada Senin (14/7/2014) pun mulai goyah ikatannya. Sebab, Partai Demokrat yang sudah menyatakan berkoalisi, hari itu tidak hadir di tempat.

“Harusnya ini dihadiri oleh Bapak Ketua Harian Syarief Hasan, tetapi beliau terkena macet sepertinya,” kata Ketua DPD DKI Demokrat Nachrowi Ramli saat memberi kata sambutan.

Lantas apa kata Syarief Hasan? Ketua Harian DPP Partai Demokrat Syarief Hasan mengaku tidak mengutus siapa pun untuk mewakili Partai Demokrat dalam deklarasi koalisi permanen di legislatif oleh Koalisi Merah Putih. Koalisi itu diisi partai-partai politik pendukung calon presiden dan calon wakil presiden Prabowo Subianto-Hatta Rajasa.

”Koalisi Merah Putih permanen? Saya sendiri enggak tahu ada undangan acara itu. Ini saya sekarang sedang bertugas di Medan,” ujar Syarief saat dihubungi di Medan, Sumatera Utara, seperti dikutip harian Kompas, Selasa (15/7/2014).

Sebelumnya, Ketua Dewan Pimpinan Daerah Partai Demokrat DKI Jakarta Nachrowi Ramli mengaku mendapat izin dari Syarief Hasan untuk hadir dalam deklarasi, dan kehadirannya diakui mewakili Partai Demokrat. Ia berbicara dalam deklarasi tersebut.

Syarief menambahkan, dirinya juga tidak mendelegasikan kadernya untuk mendatangi acara tersebut secara resmi.

”Terlalu dini kalau semua sudah dirancang untuk membentuk koalisi permanen, sementara presidennya saja masih harus menunggu keputusan KPU,” ujarnya.

Tentang izin yang diberikan kepada Nachrowi, Syarief menampik. ”Mungkin spontanitas beliau saja,” katanya.

Suara lain dari Partai Demokrat, Ruhut Sitompul, menyatakan, jika tak ada satu pun petinggi partainya yang menghadiri Koalisi Merah Putih permanen kemarin karena politikus Demokrat sadar konsekuensi atas dukungan tersebut.

“Mungkin mereka sadar betul koalisi permanen itu gimana. Dalam politik, mana ada yang permanen,” katanya ketika dihubungi, Selasa, 15 Juli 2014.

Menurut dia, dalam politik, 2 + 2 bisa jadi 4, 7, 9, atau bahkan 2. Ruhut mengaku tidak tahu persis alasan Demokrat tak menghadiri acara tersebut karena sekarang dia menjadi relawan Joko Widodo-Jusuf Kalla. Kendati demikian, dia tetap mengaku sebagai kader Demokrat. Berbekal pengalaman lima tahun terakhir, tutur Ruhut, anggota koalisi selalu menusuk dari belakang.

Pun demikian dengan sejawat Tantowi di Golkar. Wakil Ketua Umum Partai Golkar Agung Laksono mengatakan, Golkar tak pernah membahas koalisi permanen.

Agung Laksono mengemukakan, secara internal, partainya tidak pernah membahas dan membicarakan masalah koalisi permanen yang dibangun pasangan Prabowo Subianto dan Hatta Rajasa. Golkar malah tidak tahu apa yang dimaksud koalisi permanen itu dan apa tujuannya.

Agung Laksono malah bertanya, koalisi permanen itu apa? Sebab, di internal partainya hal tersebut belum dibahas. Agung menjelaskan, Golkar adalah sebuah organisasi politik. Sebagai sebuah organisasi maka semua keputusan terkait organisasi harus dibahas terlebih dahulu di internal. Namun, masalah koalisi permanen itu sama sekali tidak ada pembahasan.

Meski tidak dibahas, tetapi Agung mengaku sempat ditelepon oleh ARB beberapa hari lalu terkait deklarasi koalisi permanen tersebut. Menurut ARB, itulah sikap yang diambil Golkar saat ini pada masa kepemimpinannya. Jika ganti kepemimpinan di Golkar maka bisa berubah.

“Kalau seperti itu kan berarti tidak permanen. Itu sikap beliau saat ini sebagai ketum. Jadi hanya koalisi sementara,” tutur Agung Laksono.

Koalisi permanen pun jadi bola liar yang dimaknai aneka rupa persepsi. Pengamat politik dari Universitas Gadjah Mada, Ari Dwipayana, menilai, deklarasi koalisi permanen yang dilakukan Koalisi Merah Putih di Tugu Proklamasi, Jakarta, Senin (14/7/2014), secara tak langsung adalah sebuah pengakuan dari kubu Prabowo Subianto-Hatta Rajasa bahwa pemenang Pilpres 2014 adalah pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla. Deklarasi itu, kata dia, terkesan sebagai sebuah ancang-ancang untuk membangun kelompok oposisi yang nantinya akan melakukan perlawanan di parlemen.

Oleh karena itu, kata Ari, tak heran jika koalisi permanen oleh parpol pendukung Prabowo-Hatta itu terlihat dipaksakan untuk mengejar tujuan politik jangka pendek. Alasan kesamaan platform dan visi misi, dinilai Ari, cenderung dicari-cari.

Sementara pengamat politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Ikrar Nusa Bakti, lebih garang lagi dalam menilai. Dia menyayangkan rencana Koalisi Merah Putih yang akan membangun koalisi permanen. Menurut Ikrar, motivasi partai politik dalam koalisi tersebut jahat karena hanya ingin menjegal pemerintahan selanjutnya.

Ikrar menjelaskan, Koalisi Merah Putih mulai menunjukkan niat buruknya saat bersatu dalam pembahasan Rancangan Undang-Undang MPR, DPR, DPD, dan DPRD (UU MD3). Hasilnya, UU tersebut disahkan dan posisi Ketua DPR menjadi tak otomatis milik partai pemenang pemilu, dalam hal ini PDI Perjuangan.

***

Permanen menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia itu artinya tetap, tidak untuk sementara, berlangsung lama (tanpa perubahan yang berarti). Sementara koalisi berarti kerja sama antara beberapa partai untuk memperoleh kelebihan suara di parlemen. Maka, jika membaca riwayat koalisi di negeri ini, rasanya memang tidak ada yang permanen. Itulah setidaknya yang dirasakan oleh Ruhut yang partainya menginisiasi pembentukan Setgab koalisi. Namun, kini nasib Setgab Koalisi seolah mati segan, hidup pun tak mau. Belakangan markas Setgab Koalisi di Jalan Menteng, Jakarta Pusat, sepi disambangi elite partai koalisi.

Dahulu, saat membangun koalisi, ada juga acara seremoni perjanjian koalisi yang diteken, tetapi entahlah nanti ketika mereka berpisah. Adakah surat perpisahan juga diteken pula?

Lantas, bagaimana dengtan koalisi permanen? Bisa jadi akan menjadi permanen, tetapi bisa jadi cuma akan jadi permen karet yang cuma berasa sekejap di mulut sebelum akhirnya diludahkan!

@JodhiY

Sumber: Kompas.com, 17/07/14

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s