Kasus Nazar, Wajah Politik Kita

pd_ditengahpusaranKasus M. Nazaruddin, yang kini kembali jadi sorotan publik, sebetulnya mencerminkan wajah sebenarnya perpolitikan kita, bahkan bangsa ini. Masalahnya, beranikah Komisi Pemberantasan Korupsi membongkar skandal yang berpusat pada bekas Bendahara Umum Partai Demokrat itu. Maukah pemimpin negeri ini, yang kebetulan juga tokoh kunci di Demokrat, membersihkan partai ini sekaligus kotornya perpolitikan.

Publik tak habis pikir kenapa pengusutan kasus Wisma Atlet dan proyek Nazar yang lain amat bertele-tele. Kesaksian atau bukti apa lagi yang diperlukan bila yang terungkap dalam persidangan begitu gamblang? Salah satu terpidana kasus ini, Mindo Rosalina Manulang, bahkan telah amat terbuka mengungkap korupsi yang melibatkan banyak politikus ini. Kemarin ia tak hanya menyebut Ketua Umum Partai Demokrat, tapi juga sederet figur lain, seperti Angelina Sondakh, Mirwan Amir, serta Menteri Pemuda dan Olahraga Andi Mallarangeng.

Kesaksian Rosa menunjukkan, tidak seluruh ucapan Nazar selama ini hanya omong kosong dan bisa dianggap mengigau. Orang yang berlogika waras juga akan berpendapat, tidaklah mungkin terdakwa–saat itu menjadi kasir Demokrat–sendirian melakukan korupsi lewat puluhan proyek pemerintah. Kejahatan ini melibatkan banyak politikus, dan sebagian dari mereka menganggapnya praktek halal karena hasilnya digunakan demi kepentingan politik.

Anggapan seperti itu salah besar. Penggunaan duit hasil korupsi menabrak tujuan politik itu sendiri, yang semestinya demi kesejahteraan rakyat. Sedangkan mereka malah merampok anggaran yang seharusnya dimanfaatkan secara maksimal untuk rakyat. Khalayak juga melihat sebagian uang hasil korupsi itu justru untuk memperkaya diri mereka sendiri dan hanya sebagian yang digunakan buat kegiatan partai.

Praktek keji itu tergambar begitu jelas dalam kasus Nazar. Sejumlah politikus mengeruk fulus dari proyek pemerintah, seperti pembangunan Wisma Atlet di Palembang dan Stadion Hambalang di Jawa Barat. Mereka pun terbiasa menggunakan bahasa sandi ketika berkomunikasi dengan rekannya. Misalnya istilah “apel Malang” digunakan untuk menyebut uang rupiah, dan “apel Washington” untuk duit dolar Amerika Serikat. Kata sandi seperti ini sering pula digunakan dalam kegiatan ilegal, seperti praktek mafia.

Kini kita menjadi sulit menjelaskan kepada anak-anak mengenai apel Malang, semangka, atau durian, yang ternyata berbeda dengan pengertian sehari-hari. Kata sandi ini juga menjadi tertawaan masyarakat, tapi tak ada politikus yang merasa malu. Sebagian dari mereka bahkan terus-menerus membantahnya dan berlagak suci. Perilaku seperti ini hanya membuat rakyat mengelus dada dan akhirnya bisa kehilangan kepercayaan terhadap para pemimpin kita.

Itu sebabnya, kami berharap para pemimpin KPK memiliki nyali untuk membongkar tuntas praktek busuk itu. Demi perpolitikan kita yang lebih bersih, mestinya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono peduli terhadap kasus ini. Paling tidak, sebagai Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat, ia seharusnya risi atas beredarnya apel-apel haram di partai ini.

Sumber: Tempo 17 Januari 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s