Etika Seorang Pembantu Presiden

ipr_130917_pembantupres
Menteri BUMN Dahlan Iskan (kiri), Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (tengah), dan Gita Wirjawan (kanan) | KOMPAS IMAGES

POLITIK adalah soal momentum. Untuk bisa menangkap momentum, dibutuhkan kecerdasan. Tepat jika kecerdasan jadi salah satu dari tiga landasan Partai Demokrat untuk melangkah selain kesantunan dan ketaatan pada etika.

Soal kecerdasan itu banyak buktinya. Meraih posisi kelima di antara 24 parpol peserta Pemilu 2004 salah satunya. Padahal, saat itu, Partai Demokrat yang didirikan Susilo Bambang Yudhoyono pada 2001 baru pertama kali ikut pemilu. Lebih mencengangkan lagi hasil Pemilu 2009. Saat itu, Partai Demokrat juara dengan suara 21,85 persen.

Selain dua pemilu legislatif itu, kecerdasan juga terbukti dalam dua pemilu presiden. Pada Pilpres 2004, SBY mengalahkan Megawati Soekarnoputri dalam dua kali putaran pemilu. Pada Pilpres 2009, SBY hanya butuh satu putaran untuk menang dengan suara 60,80 persen.

Mereka yang tidak bisa menerima, tidak habis-habisnya juga bertanya-tanya. Bagaimana bisa? Kembali ke momentum, pertanyaan “bagaimana bisa?” terjawab jika sedikit menengok ke masa sebelum Pemilu 2004. Tidak terlalu jauh sebenarnya, hanya empat bulan sebelumnya. Saat itu, awal Januari 2004, SBY yang masih menjadi pembantu di kabinet pimpinan Megawati membantah isu dirinya mundur.

Isu mundur itu muncul lantaran didapati fakta SBY mendirikan Partai Demokrat pada 2001. September-Desember 2003, Tim Monitoring Pemilu 2004 di Kementerian Politik dan Keamanan menyebarkan kuesioner soal Pemilu 2004.

Namun, bantahan SBY tidak menyurutkan permintaan kepadanya untuk mundur. Megawati melalui Menteri Dalam Negeri Hari Sabarno dan Menteri Sekretaris Negara/Sekretaris Kabinet Bambang Kesowo meminta agar pembantu presiden yang akan maju sebagai calon presiden mundur. Permintaan itu tidak membuahkan hasil.

Awal Maret 2004, suami Megawati, Taufiq Kiemas, angkat bicara. Secara spesifik, Taufiq minta SBY segera melapor ke Megawati sebagai tuntutan etika sebagai pembantu. Ucapan “Jenderal bintang empat kayak anak kecil” yang dilontarkan Taufiq menjadi momentum.

Pernyataan “etika sebagai pembantu” yang dilontarkan Taufiq dibalas SBY dengan menyebut “etika hubungan presiden dan menteri”. SBY merasa tugasnya sebagai pembantu diambil alih Megawati. Kemelut lantas meluas di media. Momentum tepat disertai liputan media yang kerap membuat popularitas SBY berlipat-lipat.

Setelah sembilan tahun, peristiwa serupa datang menghampiri dua menteri yang kini ikut konvensi, yaitu Menteri BUMN Dahlan Iskan dan Menteri Perdagangan Gita Wirjawan. Meski serupa, ini pasti tak dilihat sebagai momentum.

Dengan kecerdasan rata-rata saja, ikut konvensi dengan tetap menjadi menteri adalah bagian etika seorang pembantu. Selain sebagai Presiden, Susilo Bambang Yudhoyono adalah Ketua Umum Partai Demokrat. Di berbagai survei, popularitas Partai Demokrat pada Pemilu 2009 melorot. Tidak etis jika dalam kesusahan, pembantu pergi. (Wisnu Nugroho)

Sumber: Kompas.com 17/09/13

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s