KPK Tanpa Taji

SETIDAKNYA ada dua kasus besar yang menjadi barometer keberhasilan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), yaitu megaskandal Bank Century dan kasus Wisma Atlet. Dua kasus itu dijadikan barometer karena, langsung atau tidak langsung, terkait dengan pusaran kekuasaan saat ini.

Tugas utama KPK atas dua skandal itu ialah mengurai benang kusut korupsi yang kian menggurita dan menyeret pihak yang bertanggung jawab ke pengadilan. Karena itu, KPK mesti fokus bekerja.

Akan tetapi, sejak dilantik pada 16 Desember 2011, KPK di bawah kepemimpinan Abraham Samad masih doyan menebar janji. Janji akan ada tersangka baru dalam kasus Wisma Atlet. Janji bahwa kasus Bank Century ditingkatkan ke penyidikan. Sejauh ini, janji itu hanya pepesan kosong.

Memang benar bahwa KPK sudah menetapkan mantan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Miranda Goeltom sebagai tersangka kasus suap cek perjalanan yang mengalir ke DPR pada 2004. KPK juga sudah menahan anggota DPR Wa Ode Nurhayati, tersangka kasus dugaan korupsi terkait dengan alokasi anggaran Dana Percepatan Pembangunan Infrastruktur Daerah 2011.

Namun, kasus Miranda dan Wa Ode bukanlah barometer keberhasilan KPK. Dua kasus itu tidak terkait dengan pusaran kekuasaan. Jika dua kasus itu digembar-gemborkan sebagai ukuran keberhasilan, itu namanya KPK macan ompong.

Lagi pula, Wa Ode mestinya lebih dulu diperlakukan sebagai saksi karena berkat dialah patgulipat di Badan Anggaran DPR terbongkar.

Publik merindukan KPK bergigi dan bertaji, bukan KPK macan ompong. Itu artinya KPK mesti punya nyali membongkar skandal korupsi yang diduga melilit sejumlah elite saat ini. KPK tidak perlu lagi membuang energi mengusut kasus remeh-temeh, tapi fokus pada Century dan Wisma Atlet.

Kasus Wisma Atlet sudah terang benderang. Keterangan terdakwa Nazaruddin dan saksi Mindo Rosalina Manulang serta Yulianis sudah lebih dari cukup untuk menjerat semua pihak yang diindikasikan terlibat.

Setali tiga uang skandal Century. Vonis politik sudah dijatuhkan DPR atas pihak yang bertanggung jawab. Ketua KPK Abraham Samad bahkan sudah mengendus perbuatan melawan hukum sehingga bisa ditingkatkan ke penyidikan.

Ternyata, KPK terbelah dalam dua kasus itu. Abraham Samad berkukuh menetapkan tersangka baru dalam Wisma Atlet dan meningkatkan status hukum skandal Bank Century. Akan tetapi, komisioner lainnya mencari aman, memilih tiarap di bawah bayang-bayang kekuasaan. Itu sebabnya dua kasus tersebut tetap mengambang.

KPK membutuhkan lima pemimpin mereka mempunyai nyali yang sama. Keputusan lembaga superbodi itu bersifat kolektif dan kolegial. Tugas berat Abraham Samad ialah memasang gigi dan taji kepada komisioner lainnya sehingga tidak mengubur asa publik.

Sumber: Editorial Media Indonesia, 31 Januari 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s