Ketegangan Meluas di Teluk antara Pro dan Kontra Ikhwanul Muslimin

Oleh: Musthafa Abd Rahman

Panorama konstelasi politik di Timur Tengah pekan ini diramaikan keputusan Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Bahrain, yang Rabu (5/3) lalu menarik duta besar masing-masing dari Qatar. Mesir juga ikut menarik duta besarnya dari Qatar pada hari Kamis (6/3).

Harian Kuwait, Al Qabas, edisi Jumat (7/3) mengungkapkan, Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), dan Bahrain kini bahkan sedang mempelajari kemungkinan melarang maskapai penerbangan Qatar terbang di atas wilayah tiga negara tersebut.

Tiga negara di kawasan Teluk Persia tersebut juga memutuskan tak akan mengundang Qatar dalam semua forum dialog, seminar, atau konferensi yang digelar di wilayah mereka.

Keputusan itu untuk pertama kali terjadi, tak hanya sejak dibentuknya Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) —tempat mereka semua tergabung tahun 1981. Ini juga peristiwa pertama sejak berdirinya sistem negara monarki keluarga di Semenanjung Arab pada abad ke-19 dan abad ke-20.

GCC beranggotakan enam negara Arab Teluk, yaitu Arab Saudi, Kuwait, Qatar, UEA, Bahrain, dan Kesultanan Oman.

Keputusan tersebut menandai awal retaknya GCC, yang selama ini dikenal sebagai organisasi regional paling solid.

Keretakan GCC itu muncul sebagai akibat pergeseran luar biasa konstelasi politik di Timur Tengah setelah meletusnya revolusi rakyat di sejumlah negara Arab pada tahun 2011, seperti Tunisia, Mesir, Libya, Yaman, dan Suriah.

Revolusi rakyat itu kemudian disusul kemenangan partai-partai politik berbasis ideologi Ikhwanul Muslimin (IM) dalam pemilu di Tunisia, Mesir, dan Libya yang mengejutkan dunia Arab saat itu.

Segera muncul poros Sunni pro dan kontra IM. Poros Sunni kontra IM memandang poros Sunni pro IM sebagai ancaman terhadap sistem politiknya.

Tiga poros besar

Kini ada tiga poros politik besar di Timur Tengah sesudah gelombang revolusi rakyat yang juga disebut Musim Semi Arab itu.

Pertama adalah poros negara-negara Sunni pro IM, yang terdiri dari Qatar, Turki, pemerintahan Hamas di Jalur Gaza, Tunisia, Libya, dan Maroko.

Kedua, poros Sunni kontra IM, yang terdiri dari Arab Saudi, Kuwait, UEA, Bahrain, Aljazair, Otoritas Palestina di Ramallah, dan pemerintahan sementara Mesir sesudah penggulingan Presiden Muhammad Mursi pada 3 Juli 2013.

Ketiga, poros Syiah yang terdiri dari Iran, pemerintahan Perdana Menteri (PM) Nouri al-Maliki di Irak, rezim Presiden Bashar al-Assad di Suriah, dan Hezbollah di Lebanon selatan.

Pertarungan antara poros Sunni pro IM dan kontra IM tidak kalah sengit dibandingkan pertarungan antara poros Sunni dan Syiah.

Keputusan Arab Saudi, UEA, Bahrain, dan Mesir menarik dubesnya dari Qatar merupakan bagian dari pertarungan sengit antara poros Sunni pro dan kontra IM tersebut.

Barometer pertarungan di antara dua poros Sunni tersebut kini berada di GCC mengingat kekuatan pengaruh finansial Arab Saudi, UEA, dan Qatar.

Qatar dengan kekuatan finansial dan jaringan stasiun televisi Al Jazeera cukup menggetarkan kekuatan poros Sunni kontra IM. Apalagi Qatar juga menampung tokoh-tokoh IM yang lari dari Mesir.

Bahkan, tokoh IM yang berdomisili di Doha, Qatar, seperti Sheikh Yusuf Qardhawi, sering mengkritik Arab Saudi dan UEA melalui khotbah Jumat atau Al Jazeera.

Itu sebabnya poros kontra IM kini memandang perlu menundukkan Qatar untuk melemahkan poros pro IM di wilayah lain.

Merusak kebersamaan

Pertarungan sengit itu kini praktis telah mengempaskan nilai-nilai yang tertanam kuat di tubuh GCC selama ini. GCC selama ini dikenal memiliki tradisi kuat terikat dengan perasaan senasib dan seperjuangan dalam menghadapi tantangan internal maupun eksternal.

Kekuatan kebersamaan itu muncul lantaran negara-negara GCC disatukan sistem politik sama, yakni sistem monarki keluarga, serta sistem lingkungan sosial, budaya, dan pandangan keagamaan yang sama, yaitu lingkungan konservatif.

Anggota GCC juga sama-sama ketiban rezeki melimpah, yaitu kandungan minyak dan gas, yang jauh melampaui kebutuhan jumlah penduduknya yang relatif sedikit.

Ancaman terhadap salah satu anggota GCC segera dianggap sebagai ancaman terhadap seluruh GCC. Hal itu dibuktikan ketika negara-negara Arab kaya itu membentuk GCC pada tahun 1981 untuk menghadapi kemungkinan ”ekspor” revolusi Iran. GCC kemudian bersatu mendukung Irak dalam Perang Irak-Iran pada 1980-1988.

Ketika Irak menduduki Kuwait pada tahun 1990, semua anggota GCC kompak mengirim pasukan ke Arab Saudi untuk mengusir Irak dari Kuwait.

Upaya pelemahan

Di luar Qatar, poros Sunni kontra IM juga terus berupaya menghabisi, atau minimal
melemahkan jaringan pro IM.

Keputusan pengadilan Mesir pada Selasa (4/3) untuk melarang aktivitas Hamas di Mesir dan menyita semua aset Hamas di negara itu juga bagian dari aksi melemahkan poros pro
IM.

Di Turki, pemerintahan PM Recep Tayyip Erdogan yang berideologi IM kini juga mulai goyah setelah konflik dengan bekas mitra seperjuangannya, Fethullah Gulen. Kini muncul asumsi kuat ada kekuatan poros Sunni anti IM di balik upaya Gulen merongrong kekuasaan PM Erdogan saat ini.

Di Tunisia, pemimpin partai Islamis Ennahda, Rashid Ghannouchi, cukup cepat membaca gejala gerakan aksi melemahkan jaringan IM itu. Ghannouchi segera membangun kompromi dengan kubu sekuler di Tunisia dalam penyusunan konstitusi baru untuk mencegah kekuatan kontra IM dan kontra revolusi menggusur Ennahda dari kekuasaan.

Di Libya, upaya poros Sunni kontra IM hingga saat ini gagal menggusur kekuatan poros Sunni pro IM. Kasus aksi dua milisi bersenjata kuat asal Zintan, Libya barat, yakni milisi Al Qaaqaa dan Al Sawaaq, pada 18 Februari lalu memberikan ultimatum kepada Kongres
Nasional Umum (GNC) agar segera membubarkan diri, merupakan bagian dari pertarungan poros pro dan kontra IM di Libya.

Dua milisi yang mengancam tersebut punya hubungan politik kuat dengan Aliansi Kekuatan Nasional (NFA) pimpinan Mahmud Jibril yang berideologi liberal. Komandan milisi Al Qaaqa, Usman Mlegta, adalah saudara politisi NFA, Abdelmajid Mlegta. Adapun GNC kini dikuasai oleh kelompok pro IM.

Namun, upaya milisi Al Qaaqa dan Al Sawaaq itu gaga karena diancam balik oleh milisi kuat bersenjata di Misrata, yang loyalis IM, jika ada aksi membubarkan GNC.

Itulah perubahan terkini yang terjadi di dunia Arab. Kemenangan partai-partai politik berbasis ideologi IM dalam pemilu sesudah revolusi Arab tahun 2011 memicu munculnya persaingan dan pertarungan baru di Timur Tengah dan dunia Arab secara keseluruhan.

Sumber: Kompas.com, 13/3/2014

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s