Editorial NYT: Pecundang Sakit Hati Ludahi Demokrasi Indonesia.

Editorial NY Times: Pecundang Sakit Hati, Ludahi Demokrasi Indonesia | Fiskal.co.id

Sumber Foto: public relation pakistan

 Elizabeth Pisani kolumnis dan ahli Indonesia menuliskan editorial pedas minggu ini, di kolom Newyork Times, salah satu media berpengaruh di AS, dengan judul “Sore Losers Spite Indonesia’s Democracy” (Pecundang Sakit Hati Ludahi Demokrasi Indonesia.)

Pisani menyoroti peran Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), yang berbicara bulan lalu di Amerika Serikat tentang pentingnya partisipasi masyarakat dalam politik, akan halnya ada hal ironis yakni partai yang dipimpinnya malah membelokkan niat pemilihan langsung yang reformatif.

Dengan taktik tiktak politik berharap publik pelupa mudah lupa dalam permainan “cantik” Demokrat dalam menghukum PDIP yang sangat tertutup dan mengabaikan fatsun politik transaksional yang lazim diberlakukan para lobbying politik.

Dan demikian, dalam sudut pandang Pisani langkah SBY ini tampak kolegial. Bagian dariekspresi komunikasi antara dua orang jenderal kuat di akhir pemerintahan orde baru, yakni SBY sendiri dan Prabowo Subianto.

Walau kedua berbeda pendapat dan paham, namun keduanya berasal dari tungku tempaan yang sama, TNI.

Dan kedua orang itu kerepotan menghadapi generasi politisi baru : yakni para profesionaladministrator lokal yang kompeten non elitis yang memiliki daya pikat publik banding langsungke pemilih. Dan golongan pemimpin baru ini punya sikap yang mirip yakni anti politisi  dan sering menentang jalan untuk memenuhi keinginan korup kepentingan partai politik mereka.

Pisani menjelaskan bahwa ini semata bentrokan generasi yang melewati sekat militer-sipil, ketika politisi sipil kelabakan melawan pemimpin reformis jenis baru ini, maka para militer bersatu bersama sama kaum sipili politisi untuk mencegahnya.

Mencegah agar elite politik jakarta dan parpol umumnya tidak jadi bulan bulanan inkompetensi.Apa yang ditinggalkan Soeharto dan Orde Barunya sejak tahun 1998 adalah narasi utama daripemilihan presiden.

Nasi menjadi bubur, ketertutupan kaum reformis kepada kekuatan politik lama menghasilkan perang panjang, bermula di pengadilan mahkamah konstitusi, yang bagi kaum reformis adalah awal, namun kaum politisi lama tidak pernah mengakui kekalahan dan perjuangan mereka baru dimulai sejak saat itu.

Kaum reformis lupa, bahwa kekuatan politik tidak semata muncul dari dukungan kaum teknokrat atau semata dukungan aktivis pro demokrasi dengan kekuatan media nasional.

Kekuatan riil sejatinya adalah lobi politik. Saat kekuatan reformis terlalu percaya diri dan mengabaikan seni lobi politik, bahkan meremehkan kekuatan lama, maka kekuatan lama bukanlah kambing jagal menunggu nasib di tangan parang tajam. Mereka melawan karena bila tidak melawan, mereka tergilas.

Maka dari itu ada sebuah ironi di sini. Indonesia kehilangan hak-hak demokratis, melalui prosedur yang sepenuhnya demokratis. SBY pun tidak menyangka ada kemarahan publik atas kegagalan partainya untuk melindungi pemilihan langsung, lalu mencoba kembali mencuri panggung dengan mengeluarkan Peraturan Pemerintah pengganti undang-undang” demimenyelamatkan muka sekaligus jadi alat tawar lobi terbaru.

Sekarnag bagaimana meyakinkan publik untuk mendorong kaum reformis dan golongan Joko Widodo untuk berjabat tangan dengan kaum anti reformasi dan demokrasi. Kotor memang, tapi demokrasi terlalu mahal untuk di jual demi suatu dendam politik.***

Sumber:

Fiskal.co, 08/10/2014

Sore Losers Spite Indonesia’s Democracy, New York Times, 07/10/2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s