Editorial KOMPAS: Modal di Awal Kampanye

KAMPANYE hari pertama dan kedua berlangsung damai, aman, dan tertib. Ini modal baik untuk pemungutan suara 9 April 2014.

Sejumlah ketua umum partai politik turun langsung ke panggung kampanye. Selain menawarkan janji dan menjual pengalaman, mereka pun saling sindir dengan mencoba mengungkap sisi negatif pesaing mereka. Pola itu sah-sah saja dalam panggung bernama kampanye pemilu. Namun, tetap ada harapan, pidato di panggung kampanye terkontrol agar suasana damai tetap terjaga sampai semua tahapan pemilu selesai.

Tanggal 16 Maret-5 April 2014 adalah masa kampanye pemilu legislatif. Sebanyak 6.607 calon legislator akan memperebutkan 560 kursi DPR dan 945 calon anggota Dewan Perwakilan Daerah akan memperebutkan 136 kursi DPD. Adapun belasan ribu calon legislator akan memperebutkan 2.137 kursi DPRD provinsi dan 17.560 kursi DPRD kabupaten/kota. Parpol coba menawarkan gagasan dan program untuk menarik perhatian 181,1 juta pemilih.

Masyarakat berharap muncul narasi besar untuk membangun DPR yang lebih baik. DPR yang lebih responsif terhadap jeritan suara rakyat. DPR yang lebih produktif membuat produk legislasi yang lebih memperkuat posisi rakyat dan DPR yang mampu menyusun anggaran negara yang lebih ditujukan untuk kesejahteraan rakyat. Di tengah apatisme publik terhadap partai politik, calon legislator diharapkan mampu menawarkan apa yang mau dikerjakannya sebagai anggota “Yang Terhormat” dalam upayanya mengawasi jalannya pemerintahan.

Tantangan Indonesia 2014-2019 terasa lebih kompleks. Memang ada bonus demografi yang dinikmati bangsa Indonesia, tetapi masalahnya bagaimana bonus demografi itu dimanfaatkan untuk kesejahteraan rakyat dan tidak malah berubah menjadi bencana demografi. Harus diakui, penyakit korupsi masih saja belum berhasil kita enyahkan, termasuk juga di DPR. Banyak anggota DPR dan penyelenggara negara lain yang terjerat kasus korupsi. Apa yang mau ditawarkan partai politik dan calon legislator untuk menekan angka korupsi di Indonesia?

Masih banyak isu strategis yang dihadapi bangsa Indonesia, yaitu ancaman terhadap kemajemukan, kesenjangan sosial ekonomi yang kian menganga, kehancuran lingkungan hidup, persiapan Indonesia menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015, dan isu strategis lain yang perlu dijawab parpol, calon legislator, ataupun calon pemimpin Indonesia 2014-2019.

Lebih ideal jika dalam kampanye Pemilu 2014 terjadi pertarungan gagasan besar terkait dengan masalah strategis yang dihadapi bangsa. Pada sisi lain, harus diakui, kampanye di era pragmatis seperti sekarang, yang terjadi adalah “demokrasi jual-beli” yang mengandalkan uang sebagai daya tarik utama untuk menjatuhkan pilihan. Namun, dalam situasi yang sangat pragmatis seperti itu, tetap diperlukan narasi besar soal Indonesia mendatang.

Sumber: Kompas, 18/3/2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s