Darah Untuk Demokrasi

KORBAN KEBAKARAN - Sampai pukul 20.30 WIB, Jumat (15/5), RSCM telah menerima 137 jenazah korban kebakaran dari beberapa pusat pertokoan di Jakarta yang dibakar massa pada kerusuhan sehari sebelumnya. Jenazah telah hangus terbakar sehingga keluarga sulit mengenali korban. - KOMPAS
KORBAN KEBAKARAN – Sampai pukul 20.30 WIB, Jumat (15/5), RSCM telah menerima 137 jenazah korban kebakaran dari beberapa pusat pertokoan di Jakarta yang dibakar massa pada kerusuhan sehari sebelumnya. Jenazah telah hangus terbakar sehingga keluarga sulit mengenali korban. – KOMPAS

oleh: Max Regus *)

Di seputar dinamika politik 1998, Washington Post menulis laporan khusus. Salah satunya ditulis oleh Keith B Richburg berjudul “Indonesia’s Unintentional Martyrs”.

Artikel itu dipublikasikan pada 8 Juni 1998. Semua artikel tersebut ditulis dengan rinci apa yang terjadi dengan para mahasiswa Universitas Trisakti, Elang Mulya Lesmana dan kawan-kawan, yang ditembak pada 12 Mei 1998.

Tidak terbantahkan, Tragedi Trisakti adalah titik balik keangkuhan politik rezim Orde Baru hingga keruntuhannya. Sejak itu, empat momentum pemilihan umum (pemilu), disertai kegairahan politik yang muncul, tidak pernah lepas dari tetesan darah para mahasiswa di Mei itu. Kita bisa merayakan demokrasi karena keberanian mereka me- ngorbankan hidup dan masa depan.

Meski begitu, yang tersaksikan di hadapan kita tidak seluruhnya membahasakan dedikasi demokratik murni bagi sejarah masa lalu. Tidak ada penghargaan politik terhadap setiap pengorban- an untuk kemeriahan demokratik yang kita nikmati saat ini. Bahkan, secara memalukan, demokrasi telah mencuci bercak- bercak darah yang menempel pada seragam keangkuhan totaliterisme. Sejurus, para pendukung absolutisme kekuasaan telah berhasil mengelabui sejarah, kesadaran publik, sehingga di mana- mana mereka hadir seolah-olah sebagai penyelamat bangsa paling benar.

Bentuk pertanggungjawaban
Sebetulnya pada makna yang paling asali, proyek politik dan demokratisasi yang sedang kita jalankan seharusnya menjadi satu bentuk pertanggungjawaban bangsa pada setiap nyawa yang dipersembahkan untuk Indonesia yang lebih baik. Mereka yang merelakan masa mudanya untuk Indonesia yang lebih manusiawi dan berkeadilan.

Bangsa ini harus mengakui secara jujur tentang apa yang terjadi pada masa lalu, yang tercabik-cabik karena kepongahan dan ketamakan pada kekuasaan. Sikap congkak yang telah me- ngorbankan sebagian anak bangsa sebagai martir demokrasi. Di titik ini, pada momentum politik seperti sekarang, yang harus dilakukan adalah kejelian menentukan pemimpin bangsa, terutama dengan keberanian menolak setiap calon pemimpin yang beritikad melarikan diri dari sekadar memberi jawaban pada sekian banyak pertanyaan tentang posisi mereka di masa lalu. Kita harus menolak para calon pemimpin yang ingin menggunakan kekuasaan politik untuk menulis sejarah dalam kepalsuan.

Jika kita tidak mampu mengadili kejahatan terhadap kemanusiaan di masa lalu, jalan satu- satunya yang harus dikerjakan adalah dengan memutuskan semua jaringan politik dan kekuasaan yang berkaitan dengan masa lalu yang bersimbah darah pahlawan demokrasi. Darah para martir demokrasi masih terus berteriak dalam sunyi. Barangkali mereka akan tenang mana- kala Indonesia mau menerima anugerah politik dengan menyerahkan kepemimpinan bangsa ke tangan orang-orang baik. Itu yang akan menjadikan darah mereka tidak pernah sia-sia untuk demokrasi dan masa depan keindonesiaan.

*) Max Regus, Mahasiswa Tingkat Doktor Universitas Erasmus Belanda

Sumber: Kompas, 09/05/14

Baca juga, Kompas 16/05/88, Ratusan Penjarah Tewas Terbakar >>

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s