14 Tahun Reformasi: Ke Mana Para Aktivis 1998?

EMPAT belas tahun setelah 1998, beberapa agenda reformasi dianggap kandas. Selain dibajak para politisi demi kepentingan pragmatis, kondisi itu juga akibat sebagian aktivis mahasiswa enggan melakukan kerja-kerja politik praktis untuk mengawal demokratisasi. Ke mana saja mereka?
Berbeda dengan gerakan mahasiswa 1966 yang ikut menumbangkan Orde Lama, gerakan mahasiswa 1998 cenderung tak bergerak dengan struktur organisasi jelas, tidak memusat pada sosok-sosok pemimpin mahasiswa tertentu, cenderung serentak, dan cenderung anonim.
Dengan karakteristiknya, para mahasiswa 1998 bergerak secara serempak untuk menggulingkan Presiden Soeharto, pemimpin Orde Baru yang berkuasa secara otoriter dan membekap demokrasi selama 33 tahun. Kekuasaan Orde Baru dianggap hegemonik untuk kroni-kroninya yang menyuburkan praktik korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN). Lewat konsep Dwifungsi ABRI, militer dimanfaatkan sebagai alat politik untuk melanggengkan kekuasaan.
Krisis ekonomi pada akhir 1997 mendorong masyarakat semakin kehilangan kepercayaan kepada pemerintah. Keresahan itu mengental dalam gerakan mahasiswa dengan tuntutan: turunkan dan adili Soeharto beserta kroninya, hapus KKN, kembalikan ABRI ke barak, dan lakukan reformasi pemerintahan secara menyeluruh.
Setelah berhari-hari melewati unjuk rasa besar, kerusuhan, dan berbagai tekanan dari masyarakat, akhirnya Soeharto mengundurkan diri sebagai presiden pada 21 Mei 1998.
Hanya saja, setelah itu, proses reformasi politik sepertinya lepas dari kontrol mahasiswa. Para politisi, sebagian merupakan jaringan Orde Baru, mengambil alih dengan mendirikan partai, berkompetisi dalam pemilu, pemilu kepala daerah, dan merebut berbagai jabatan publik.
Menurut pengamat sosial dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Robertus Robet, gerakan reformasi 1998 terjadi karena ada rasa ketertindasan bersama akibat pemerintahan otoriter Orde Baru selama lebih dari 30 tahun. ”Setelah reformasi 1998 berhasil menumbangkan Orde Baru dan mengubah konstelasi politik, para aktivis cenderung tidak mengontrol proses berikutnya. Proses pelembagaan perubahan itu akhirnya dimainkan oleh para elite politik yang lebih siap dan punya modal,” katanya. Sementara sebagian aktivis mahasiswa 1998 justru terpinggirkan.
Berserakan
Memang ada sebagian mantan aktivis mahasiswa 1998 yang kemudian masuk di medan politik praktik, menjadi politisi, atau masuk dalam struktur kekuasaan alam demokrasi. Namun, sebagian besar justru terserak dalam berbagai profesi beragam. Sebagian sama sekali tak berhubungan lagi dengan kegiatan politik.
Rama Pratama, mantan Ketua Senat Mahasiswa Universitas Indonesia (UI), misalnya, dianggap sebagai aktivis mahasiswa 1998 yang kemudian ikut masuk dalam kegiatan politik praktis. Lewat Partai Keadilan Sejahtera (PKS), dia menjadi anggota DPR periode 2004-2009. Setelah itu, dia aktif dalam organisasi kepemudaan di bawah partai tersebut.
Kegiatan politik Rama lalu agak menyusut. Namanya justru muncul karena memiliki transaksi keuangan dengan tersangka pelaku skandal pajak, Dhana Widyatmika. Rama sudah menegaskan, itu transaksi bisnis. Tak ada kaitan dengan dugaan pencucian uang dalam kasus yang masih didalami Kejaksaan Agung itu.
Ahmad Muhibuddin, mantan Ketua Senat Mahasiswa Institut Agama Islam Negeri/IAIN (kini Universitas Islam Negeri/UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta, menjadi contoh mantan aktivis mahasiswa 1998 yang kini tak lagi berkecimpung di politik. Lulus kuliah, dia sempat menjadi wartawan, sekarang menjadi PR Manager Astra Honda Motor.
”Saat aktif dalam gerakan, kami hanya fokus merobohkan rezim Orde Baru. Setelah itu, kami memilih jalan hidup sendiri-sendiri. Saya sendiri tak siap dan tak punya energi untuk berkiprah dalam politik yang kompleks,” katanya.
Ray Rangkuti, mantan aktivis mahasiswa 1998 lain, juga memilih tidak berpolitik praktis. Sempat menjadi Direktur Eksekutif Komite Independen Pemantau Pemilu (KIPP) 2002-2005, kini dia menjadi Direktur Eksekutif Lingkar Madani untuk Indonesia, yang mendorong proses demokratisasi dan gerakan antikorupsi.
(Ilham Khoiri)
Sumber: Kompas 21 Mei 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s