Kerusuhan Mei 1998, Puncak Rivalitas Wiranto-Prabowo

Lewat buku Sintong Panjaitan “Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando”, Sintong mengungkap intrik di lingkungan istana dan petinggi TNI yang menurutnya membuat kerusuhan Mei 1998 tak tertangani dengan baik. Saat terbit perdana Maret 2009, buku ini langsung jadi buah bibir dan laris manis.

Tak pernah sebelumnya sebuah buku nonfiksi sebegitu diburunya sehingga loper koran yang berjualan di lampu lalu lintas pun ikut menjajakannya. Saking lakunya, buku karya Hendro Subroto ini sampai cetak ulang empat kali pada bulan terbit perdananya, Maret 2009.

Berikut ini nukilannya:

***

Ketika perusakan dan pembakaran merebak di Jakarta pada 13 Mei 1998, Wakil Presiden B.J. Habibie berkali-kali mengontak penasihat militernya, Letnan Jenderal Sintong Panjaitan. “Di mana para perwira tinggi yang bertanggung jawab menangani kerusuhan,” tanya Habibie.

Sintong menceritakan, saat itu hampir semua pejabat teras TNI tengah berada di Malang, Jawa Timur. Pada hari kedua kerusuhan Mei itu, 14 Mei, Menteri Pertahanan Keamanan/Panglima ABRI Jenderal Wiranto berangkat ke Malang dan jadi inspektur upacara penyerahan pasukan di lingkungan Kostrad.

Hari itu, sekitar pukul empat sore, Sintong menghadap Habibie dan memintanya agar membuat pernyataan buat menyerukan pengendalian keamanan sekaligus menenangkan masyarakat. Rencananya, pernyataan itu akan ditayangkan di TVRI pada berita pukul tujuh malam dan disebar via media cetak keesokan paginya.

Kepada Sintong, Habibie menyatakan tak berani karena itu berarti melangkahi Presiden Soeharto. Pernyataan seperti itu, kata Habibie, harus seizin presiden.

Sintong mempertanyakan keputusan Habibie itu, karena saat itu presiden sedang di luar negeri sehingga mestinya sebagai Wakil Presiden dia berwenang menerbitkan pernyataan. Namun Habibie berkukuh dan malah menyuruh Sintong memintanya langsung dari Soeharto.

Sintong mengontak Menteri Sekretaris Negara Saadilah Mursyid yang bersama Soeharto sedang berada di Kairo, Mesir. Saadilah mengatakan presiden sedang istirahat, namun Sintong terus mendesak.

“Kalau perlu presiden dibangunkan karena situasi negara sedang gawat,” ujarnya. Akhirnya pernyataan itu berhasil didapatnya dan hari itu juga disiarkan di TVRI.

Keesokan harinya, Soeharto tiba dini hari di Indonesia. Pukul sepuluh pagi Presiden Soeharto memanggil Wiranto, Saadilah, dan Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal Subagyo HS ke rumahnya di Cendana.

Soeharto memerintahkan dibentuk Komando Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Kopkamtib). Sintong menilai pembentukan adalah pertanda Soeharto sudah punya naluri bahwa situasi rusuh di ibukota itu bisa berujung pada kejatuhannya.

Namun Menteri Koordinator Ekonomi Keuangan dan Industri Ginandjar Kartasasmita keberatan dengan keputusan Soeharto membentuk Kopkamtib. Menurut dia, nama itu bakal bikin investor asing takut.

Akhirnya dalam Instruksi Presiden, Soeharto mengganti namanya jadi Komando Operasi Kewaspadaan dan Keselamatan Nasional. Wiranto jadi panglima komando dan Subagyo ditunjuk jadi wakilnya.

Baru pada 15 Mei 1998 itu tentara dikerahkan besar-besaran. Berbagai satuan tentara bahkan didaratkan dengan helikopter di banyak tempat.

“Itu sudah terlambat,” kata Sintong. “Kalau hal itu dilakukan sebelumnya, Peristiwa Mei 1998 tidak akan separah itu.”

Bagi Sintong, kegagalan TNI dalam menangani kerusuhan Mei 1998 merupakan blunder terburuk dalam sejarah TNI sejak 1945. Sintong mengatakan, Menteri Pertahanan dan Kemananan/Panglima ABRI ketika itu harus memikul tanggung jawab tersebut.

Hari-hari setelahnya Ketua MPR Harmoko meminta Suharto mundur. Ketua PP Muhammadiyah Amien Rais juga menyatakan akan menggelar unjuk rasa besar-besaran mengepung Istana pada 20 Mei 1998, bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional.

Desakan demi desakan pascakerusuhan itu akhirnya membuat Soeharto mengundurkan diri pada 21 Mei 1998. Pada hari itu B.J. Habibie dilantik menggantikannya.

Namun badai di pucuk tertinggi TNI tak berhenti. Sintong bercerita rivalitas Wiranto dan Panglima Kostrad Letnan Jenderal Prabowo Subianto kian meruncing.

Prabowo, misalnya, mengkritik Wiranto yang memilih pergi ke Malang di tengah kerusuhan Jakarta. Dia juga mengutus Kepala Staf Kostrad Mayor Jenderal Kivlan Zen dan Komandan Kopassus Mayor Jenderal Muchdi PR membawa surat dari Jenderal Besar AH Nasution kepada Habibie yang isinya menyarankan memecah jabatan ganda Menteri Pertahanan Kemananan dan Panglima TNI.

Menteri itu agar dijabat Wiranto, sementara posisi panglima dioper ke Subagyo. Lalu Prabowo menjadi Kepala Staf Angkatan Darat.

Sementara itu Wiranto melaporkan Prabowo telah mengerahkan pasukan Kostrad  ke Jakarta, khususnya ke sekitar kediaman Presiden B.J. Habibie di Kuningan, Jakarta Selatan.  Wiranto mengaku tak dilapori Prabowo soal pasukan itu.

Sejarah mencatat, akhirnya Habibie memihak Wiranto dan memerintahkannya agar mencopot Prabowo. Maka terlemparlah Prabowo jadi Komandan Sekolah Staf dan Komando TNI di Bandung, Jawa Barat.

Baik Wiranto dan Prabowo dalam berbagai kesempatan membantah penjelasan Sintong itu yang terbit menjelang pemilihan presiden di mana keduanya maju sebagai calon presiden. Wiranto menulis versinya sendiri soal Mei 1998 dalam buku Bersaksi di Tengah Badai.

Sumber: Yahoo News 13/05/14

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s