Wimar Witoelar: Politik Keceriaan Menjadi Modal Besar

Wimar Witular dalam Perspektip Baru memaparkan mengenai perkembangan politik Indonesia terkini. Pada pemilihan presiden tahun ini muncul dua kekuatan politik yang bersaing yaitu Koalisi Indonesia Hebat yang mengusung pasangan Joko Widodo dan Jusuf Kalla dan Koalisi Merah Putih yang mengusung pasangan Prabowo Subianto dan Hatta Rajasa.

Setelah kalah pada pemilihan presiden, Koalisi Merah Putih tetap berusaha mendapatkan kekuasaan dengan menguasai posisi-posisi penting ketua MPR dan ketua DPR. Wimar melihat bahwa dikuasainya posisi-posisi tersebut oleh Koalisi Merah Putih tidak berarti Koalisi Indonesia Hebat sudah kalah. Ibarat permainan sepak bola, masih ada pertandingan-pertandingan lainnya. Dikuasainya DPR oleh Koalisi Merah Putih pun sebenarnya merupakan pertandingan kedua. Pertandingan pertama adalah pemilihan presiden, yang sebenarnya mempunyai nilai lebih penting, telah dimenangkan oleh kubu Joko Widodo yang didukung oleh rakyat Indonesia.

Wimar melihat bahwa Koalisi Merah Putih merupakan koalisi yang dibangun atas dasar sesuatu yang negatif dan karenanya tidak akan bertahan lama. Secara perlahan, masyarakat dan pemerintah akan berdialog dan menerima usul dari berbagai pihak. Orang akan merasa berguna kalau dia bekerja dengan kekuatan yang konstruktif termasuk mereka yang berada di parlemen.

Berikut wawancara Perspektif Baru dengan Budi Adiputro sebagai pewawancara dengan narasumber Wimar Witoelar

Bagaimana masa depan kabinet pemerintahan baru dengan melihat komposisi parlemen saat ini?

 

Kita ketahui bahwa Koalisi Merah Putih (KMP) pasti akan menguasai parlemen. Hasil pemilihan umum (Pemilu) menunjukkan bahwa KMP memang mayoritas di parlemen. Tapi kalau kita perhatikan, Jokowi menang di pemilu tanpa mengandalkan dukungan partai, melainkan dukungan warga biasa. Kita tahu sendiri di dalam acara-acara kampanye, bendera partai tidak banyak terlihat.

 

Memang betul, ada beberapa partai yang mendukung, tapi sebagian besar dukungan berasal dari rakyat. Jadi ketika anggota DPR melakukan pemilihan dengan sistem voting, sudah hampir dapat dipastikan pihak Jokowi atau Koalisi Indonesia Hebat (KIH) akan kalah. Sebetulnya bisa dihindari andaikata Partai Demokrat melaksanakan fungsinya sebagai penyeimbang. Karena dengan tambahan suara mereka di parlemen, Partai Demokrat akan bisa mengubah keputusan mengenai pilkada langsung. Tapi itu sudah lewat. Memang betul ada yang mengatakan jika koalisi pendukung Jokowi kalah 5-0. Tapi seperti permainan sepak bola, masih ada pertandingan lainnya.

Jadi menurut Anda ini baru pertandingan pertama?

Ini pertandingan kedua. Pertandingan pertama ialah pemilihan presiden. Pemilihan presiden itu jauh lebih penting dari pemilihan Ketua DPR. Ini karena kehidupan orang sehari-hari diatur oleh eksekutif. Sedangkan DPR bertugas mengawasi pemerintahan dan membuat undang-undang. Melihat orang-orang yang berada di DPR sekarang, sepertinya mereka hanya akan mengatur nasibnya sendiri di parlemen, dengan bagi-bagi proyek, mencari gratifikasi dan lain-lain. Jadi wajar Jokowi menanggapinya dengan tenang. Selama pemerintahan dia baik, tidak korupsi, melaksanakan beberapa program baru, maka dukungan rakyat akan kuat. Kalau ada gangguan dari DPR, maka rakyat akan mengawal. Jadi istilah mengawal ini bagus. Kemarin tidak bisa pemerintah mengharapkan rakyat mengawal, karena sama bersalahnya dengan DPR dalam hal korupsi dan sebagainya. Sekarang memang pertaruhan Jokowi adalah untuk melaksanakan pemerintah bersih melawan legislatif yang kotor. Di situ dia bisa menang.

Banyak masyarakat yang khawatir pemerintahan Jokowi tidak akan berlangsung lama. Bagaimana menurut pandangan Anda?

Selalu ada orang yang resah dan ada orang yang tenang, jadi itu wajar. Tapi yang sekarang membesarkan hati adalah, banyak orang yang melihat bahwa kekuatan Jokowi memang bukan di parlemen. Katakanlah, Jokowi berhasil membuat proyek maritim super highway atau jalan tol laut. Salah satu keberhasilan yang bisa dilihat, jika jeruk Pontianak bisa dijual di Jakarta dengan harga lebih murah dari jeruk Taiwan. Yang sulit tentunya isu seperti BBM, yang sebetulnya bukan isu partisan tapi isu ekonomis. Momen pertama yang kita nantikan adalah pada waktu pengumuman kabinet. Kalau kabinetnya bagus, dalam arti orangnya bisa dipercaya, menimbulkan kepercayaan, lepas dari dia partai politik (Parpol) atau bukan parpol, maka orang akan melihat bedanya eksekutif dengan legislatif.

Hari ini KMP berkuasa secara formal, tapi kalau mereka tidak disukai maka koalisinya bisa retak. Setelah kekalahan di depan rakyat pada waktu di Mahkamah Konstitusi (MK), saya yakin popularitas Prabowo di mata rakyat turun. Apalagi sekarang kalau hanya ribut terus, Hashim bicara dia akan menghambat pemerintah. Kemudian Hashim sendiri meralat, padahal kalau kita baca wawancara aslinya di Wallstreet Journal memang dia bicara seperti itu. Jadi mereka sebenarnya mulai malu dengan ucapannya sendiri. Sesuatu yang dipertahankan negatif terus-menerus tidak bisa berlangsung lama. Jadi dukungan rakyat berkurang. Efek nyatanya bisa diprediksi dengan beberapa partai akan lepas dari koalisi itu.

Jadi Anda memprediksi bahwa dalam beberapa waktu ke depan, KMP akan bubar?

Ya tidak akan diumumkan bubar secara langsung. Secara perlahan, orang akan berdialog dan menerima usul. Menyelenggarakan pemerintahan itu tidak usah dari dalam pemerintahan. Saya saja bisa ikut menyelenggarakan pemerintahan dengan berdialog dengan mereka. Orang akan lebih banyak merasa berguna kalau dia bekerja dengan kekuatan yang konstruktif, termasuk mereka yang berada di parlemen. Jadi suatu koalisi yang dibangun atas dasar kebencian seperti Hashim dengan pernyataan “Jokowi harus membayar untuk kemenangannya”, merupakan suatu koalisi yang dibangun atas dasar yang negatif.

Dan itu tidak bertahan lama, meskipun Prabowo mengatakan bahwa representasi partai yang bergabung dalam KMP itu adalah representasi 60% lebih masyarakat Indonesia?

Dia juga yakin akan jadi presiden yang menjadikan Indonesia macan Asia. Baguslah masih ada orang yang mempunyai keyakinan.

Kalau menurut Anda sebagai warga, kira-kira mengapa Jokowi memberikan beberapa kursi menteri kepada partai?

Saya rasa sebagai ucapan terima kasih kepada partai yang mendukungnya. Pernyataan bahwa dia tidak akan memberikan kursi kepada partai, merupakan pernyataan politis yang pasti tidak akan terlaksana. Dia dan Jusuf Kalla politisi. Jadi pasti ada janji-janji politik yang dilontarkan. Tapi hal-hal yang prinsip tidak dikorbankan. Seperti mengenai korupsi, jangan hanya membuat janji politik. Seperti menunjuk orang dari partai tanpa melihat dahulu siapa yang ditunjuk. Lukman Hakim Saifuddin dari PPP misalnya. Menurut saya tidak ada Menteri Agama yang lebih baik dalam 20 tahun terakhir ini, dan kebetulan berasal dari PPP. Contoh lain saya tidak punya, tapi tidak mutlak orang yang berpartai itu jelek dan orang yang non partai itu bagus. Banyak orang non partai yang jelek juga.

Apa harapan Anda terhadap kabinet Jokowi ke depan dari segi komposisi dan orang-orangnya?

Saya tidak punya harapan terhadap orangnya, karena saya menempatkan kepercayaan saya kepada Jokowi. Jadi saya persilahkan dia tunjuk siapapun. Nanti kita lihat hasilnya karena saya sangat yakin pada Jokowi. Barangkali karena saya mengalami banyak presiden, jadi lebih yakin. Saya yakin pada presiden yang bisa menghasilkan sesuatu yang baik, tanpa kekerasan atau paksaan. Soekarno memakai paksaan, Soeharto apalagi. Kalau Presiden Jokowi tidak pakai kekerasan, dan saya yakin akan menang. Mengenai partai, saya perlu berkomentar dan mendukung pendapat orang. Suatu saat Jokowi perlu bikin partai sendiri.

Di luar dari PDI Perjuangan ?

Iya, karena kemarin Jokowi menang bukan karena PDI Perjuangan. Kalau diistilahkan, dia menang despite PDI Perjuangan. Ibu Megawati itu walaupun orang baik, itu tetapi bukan politikus yang baik. Sedangkan Jokowi ingin melancarkan politik modern yang 20 tahun di depan Megawati. Jadi kalau PDI Perjuangan hidup dengan loyalisnya, maka warga-warga yang menginginkan demokrasi modern dan pemerintah bersih bisa memilih partai baru tersebut. Tentu ini untuk Pemilu yang akan datang. Bisa juga dia bergabung dengan orang-orang bersih dan membentuk partai.

Kalau melihat kemenangan Jokowi menjadi presiden, Apa yang bisa kita pelajari dari momentum ini?

Silahkan baca tulisan terakhir Elisabeth Pisani yang saya posting di facebook saya. Juga ada mengenai situasi politik Indonesia sekarang bahwa reformasi Jokowi ini sedang dihadang oleh sore loosers. Artinya orang yang kalah dan tidak sportif. Hal Ini jelas antara reformasi orang-orang baru, orang-orang non partai. Saya tidak bisa menyebut orang muda. Sebab orang tua juga bisa bersih, dan mereka melawan politikus Orde Baru. Selain itu, Orde Baru pun tidak semuanya tua dan banyak juga yang muda. Dari situ kita bisa lihat bahwa, orang yang di pihak Jokowi itu orang baik. Orang melawan Jokowi itu belum tentu orang jelek, tapi orang yang mempunyai kepentingan untuk menjegal reformasi. Dengan latar belakang itu, saya lihat gejalanya Jokowi tidak akan mundur. Lama-lama kemenangan orang baik itu hanya soal waktu. Sebab orang tidak mau tinggal di negara yang jelek. Jadi yang masih mau demikian itu karena mempunyai kepentingan. Kalau kepentingan dia tidak terlayani dengan politik yang negatif, lama-lama dia juga ikut melaksanakan hal yang positif. Misalnya, daripada dia di DPR menolak proyek-proyek Jokowi, ya lebih baik dia ikut saja membuka perusahaan pengerukan untuk maritime super highway. Atau mereka membuka lahan-lahan pertanian, dan memberikan kredit model baru kepada petani. Jadi banyak proyek-proyek baru yang akan bisa melibatkan orang dan positif.

Apakah pernah ada kemenangan rakyat seperti ini dibandingkan dengan presiden-presiden sebelumnya?

Elizabeth Pisani mengatakan bahwa kemenangan Jokowi itu unik karena tidak di-drive, tidak di kendalikan, tidak di motori dari atas. Jokowinya orang biasa saja, karena dipercaya orang banyak. Jadi kampanyenya jalan sendiri. Bahkan Slank mungkin lebih efektif sebagai campaign manager, dari pada tim pemenangan Prabowo. Dalam sejarah Indonesia itu belum pernah terjadi. Proklamasi kemerdekaan contohnya, siapa yang tahu kalau Soekarno dan Hatta ditodong mahasiswa untuk mengumumkan proklamasi. Rakyat baru belakangan mengikuti. Kemudian Soekarno memimpin \New Emerging Forces anti Amerika & Inggris. Orang di lapisan bawah tidak tahu. Ada yang mau dikirim perang ke Malaysia, ada yang tidak. Kemudian Soeharto. Soeharto mungkin lebih besar dukungan massanya, karena banyak orang yang bereaksi terhadap kediktaktoran Soekarno. Dukungannya itu genuine (tulus). Terlalu tulusnya, orang tidak melihat bahwa ada pembantaian komunis di tahun itu. Semuarnya baru keluar belakangan. Tapi sekitar tahun 1973, kepemimpinan rakyat diambil alih oleh Soeharto sendiri. Mula-mula oleh angkatan bersenjata. Kemudian angkatan bersenjata pun dikesampingkan, lalu dipegang oleh Soeharto sendiri. Golkar dulunya partai tentara, kemudian menjadi partai Soeharto. Sekarang entah jadi partai siapa. Tapi gerakan Jokowi dimulainya dari bawah karena ada suasana pembaruan. Dari situ it’s happy politics. Politik keceriaan itu modal terbesar dari politik 2014 yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Bagaimana Jokowi mempertahankan kepercayaan rakyat kegembiraan rakyat dan dukungan rakyat kepada Jokowi ?

Jelas dia perlu dukungan rakyat, yang kemarin untuk dilanjutkan dalam format lain. Sekarang belum saatnya mengorganisasi. Tapi saatnya untuk memantau di mana ada penyelewengan yang nyata dari pemerintah Jokowi nantinya. Kalau di DPR ya dibiarkan saja, saya rasa itu akan tersingkir sendiri. Seperti orang yang main curang dalam pertandingan sepak bola ya akan diteriaki penonton. Juga kalau mereka tidak dapat kartu merah, kita masih mengharap ada wasit kita yang adil seperti di Mahkamah Konstitusi, dan dari banyak lembaga-lembaga Indonesia yang adil. Tapi Jokowi sendiri tidak perlu terlalu mencari dukungan rakyat, sebab dia sudah dapat dukungan rakyatnya untuk pemilihan presiden. Menjalankan pemerintahan bukan kampanye. Menjalankan pemerintahan adalah bekerja. Jadi kalau dia bekerja dengan baik, saya yakin akan ada dukungan yang lahir dengan sendirinya.

Jadi kampanye yang baik adalah dengan bekerja yang baik?

Ya, betul.

Apa sebenarnya yang kita bisa lakukan sebagai masyarakat terkait dengan komposisi politik hari ini? Masyarakat ada di mana posisinya untuk bisa mendukung pemerintahan?

Masyarakat tidak ada di mana-mana. Perhatikan saja secara santai apa yang terjadi hingga kalau memang ada yang terjadi melebihi batas yang wajar. Sekarang masih wajar, mereka menang secara konstitusional 5-0. Tapi kalau mereka membuat undang-undang yang aneh maka itu perlu dipersoalkan. Jadi masyarakat tidak usah menjadi garda Jokowi dan menyerang lawannya. Itu tidak bagus.

Dan malah semakin dibuat formal maka tidak nyaman seperti partai-partai juga

Justru kita kembangkan dengan komunikasi bebas.

Apa harapan Anda terhadap pemerintahan baru?

Harapannya agar pemerintahan baru ini dilanjutkan dengan pemerintahan yang sama baiknya atau lebih baik. Sebab Jokowi itu bukan Nelson Mandela, tapi dia bisa membuka pintu untuk orang-orang seperti Nelson Mandela.

Sumber: Perspektif Baru 27/10/14

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s