Tantangan pemberantasan terorisme di Prancis

  • 10 Januari 2015
Keamanan di Prancis diperketat setelah serangan teror selama beberapa hari. – BBC Indonesia

Serangan ekstremis Islam di Paris menunjukkan bahwa Prancis mungkin perlu memikirkan ulang skema operasi intelijen mereka, kata Camille Grand, ahli pertahanan dan Direktur Yayasan Penelitian Strategis di Paris.

Prancis memiliki salah satu komunitas Muslim terbesar di Eropa, mayoritas warga Muslim hidup damai di negara tersebut, dimana mereka berbagai nilai dan cara hidup.

Jumlah minoritas yang signifikan diketahui memiliki penafsiran terhadap Islam yang lebih keras. Tetapi lebih banyak Muslim yang konservatif, dan hanya sedikit yang merupakan golongan Islam yang keras.

Hanya sebagian dari Muslim Prancis tinggal dalam komunitas yang memiliki pandangan hidup yang jauh berbeda dengan mereka – fenomena sama yang dapat dilihat di komunitas lain di Eropa.

Hukum negara Prancis kukuh menegakkan sekularisme – misalnya larangan memakai burqa di tempat umum, atau memakai jilbab di sekolah-sekolah umum – dapat dilihat sebagai cara untuk membantu komunitas Muslim agar tidak terisolasi dari masyarakat lain.

Dua orang perempuan di Toulouse membagikan bunga tanda solidaritas terhadap serangan Charlie Hebdo. – BBC Indonesia

Tetapi yang menjadi fenomena belakangan ini adalah adanya umat Muslim di Prancis yang berubah menjadi radikal – apakah mereka itu merupakan warga negara Prancis atau bukan.

Sejumlah Imam radikal dari masjid yang resmi ataupun tidak, kemungkinan memainkan peran itu. Namun proses radikalisasi tersebut tampaknya lebih banyak terjadi melalui internet.

Radikalisasi juga terjadi di penjara, dimana para tahanan kriminal muda diajak bergabung dalam kelompok Islamis.

Peristiwa-peristiwa yang terjadi di Timur Tengah dapat memainkan peran pada tahap awal radikalisasi, dengan mengubah individu yang kehilangan jati diti menjadi militan radikal, meskipun masih sulit untuk mengidentifikasikannya.

Celah

Prancis telah berurusan dengan kelompok radikal Islam selama dua dekade terakhir, sejak konflik Aljazair menjangkau Paris dengan pemboman pada tahun 1995-1996. Sebab itu, Prancis memiliki pengalaman panjang dalam mengawasi kelompok radikal Islam.

Sistem hukum anti-terorisme yang diberlakukan di Prancis termasuk tegas dan memungkinkan penyelidikan dan pengadilan pada tahap awal. Data yang diperoleh dari intelijen asing dan domestik selama beberapa tahun terakhir telah memprioritaskan ancaman dari pejuang radikal.

Asumsi mengatakan bahwa negara tersebut telah sukses mencegah serangan terror dalam jumlah signifikan sebelum ini.

Said dan Cherif Kouachi tersangka pelaku penembakan kantor majalah Charlie Hebdo

Meskipun itu, seperti yang ditunjukkan serangan minggu ini, masih terdapat beberapa celah dalam sistem pengawasan ini.

Celah-celah seperti ini memang tidak susah dipantau tanpa mengubah negara Prancis menjadi negara kepolisian.

Dalam konteks ini, masalah utamanya adalah fakta bahwa teroris yang baru-baru ini melakukan serangan di Prancis memiliki latar belakang sebagai pejuang di negara lain, atau setidaknya telah tinggal di Suriah dan Yaman.

Jumlah warga asal Prancis yang pergi ke Suriah dan Irak cukup banyak, dan negara ini saat ini menghadapi masalah keamanan ketika ratusan dari mereka kembali pulang.

Upaya untuk mencegah ekstremis tersebut bergabung dengan kubu pejuang di negara lain menimbulkan masalah baru, yaitu dengan calon jihadis yang tinggal di negara Prancis.

Serangan minggu ini masih harus dianalisis secara rinci untuk mengetahui latar belakang yang dan jaringan teroris yang bersangkutan – namun satu hal yang jelas adalah bahwa Perancis, seperti negara demokrasi di Eropa lainnya, menghadapi tantangan keamanan jangka panjang.

Untuk mengatasi tantangan itu, negara-negara tersebut harus mendekati komunitas Muslim yang tinggal disana dengan damai – dan itu hal yang sulit dilakukan ditengah ketegangan ekonomi dan sosial.

Tantangan ini juga harus dihadapi dengan komitmen untuk tindakan tegas terhadap minoritas yang menyebarkan pesan kekerasan, tugas yang mungkin memerlukan pembenahan sistem intelijen dan anti-terorisme Prancis. ***

 

Sumber: BBC Indonesia, 10/1/2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s