Skandal Century di Rapat Tertutup

KORUPSI itu jahat, tetapi menciptakan kebijakan yang memuluskan kejahatan jauh lebih jahat. Itulah yang disebut dengan kejahatan sistemik, dan itulah sesungguhnya yang terjadi dengan kejahatan korupsi yang semakin diperangi semakin menggurita di Indonesia sekarang.

Transparansi ialah salah satu kunci memerangi kejahatan korupsi. Namun, coba tengok apa yang sedang terjadi dengan skandal Bank Century yang menelan uang negara Rp6,7 triliun. Skandal yang menghebohkan itu kini mulai digiring dari ruang terbuka ke kamar tertutup.

Kemarin Panitia Pengawas Kasus Century DPR untuk pertama kali mau datang ke kantor Komisi Pemberantasan Korupsi untuk berbicara terbuka, tetapi di ruang tertutup. Padahal, dalam forum pansus di DPR semua sudah dibuka dan terbuka. Satu-satunya yang tidak terbuka ialah ke mana uang itu mengalir.

Apakah kerelaan anggota DPR datang ke Kantor KPK untuk sebuah sidang tertutup karena akan membuka ke mana uang itu mengalir? Kalau memang diketahui aliran uang Century, mengapa harus di forum tertutup?

Publik semakin pesimistis akan ketajaman KPK mengusut unsur korupsi dalam skandal Century. Rekomendasi pansus bahwa skandal Century sarat dengan manipulasi mentok di Kantor KPK. Sudah lebih setahun KPK menjawab bahwa belum ditemukan bukti korupsi.

Dari sisi kebijakan, jelas terlihat bahwa ada policy yang memuluskan penjarahan Century. Pertama, merger yang tidak patut, tetapi dipaksakan supaya patut. Bank Century yang kecukupan modalnya (CAR) sempat minus didongkrak ke positif level tertentu melalui kebijakan dadakan untuk memungkinkan dia bisa diselamatkan agar dijarah ramai-ramai.

Ada kebijakan yang melindungi para pelaku, terutama Komite Stabilisasi Sistem Keuangan tidak bisa dihukum atas tuduhan apa pun. Dengan alasan mencegah dampak sistemik dari krisis keuangan global, penjarahan uang Century menjadi sah adanya.

Akan tetapi, di luar sana banyak yang masuk bui, termasuk pemilik Century Robert Tantular. Dua pemegang saham pengendali kabur ke luar negeri. Sri Mulyani Indrawati digeser ke Bank Dunia dengan berlinang air mata. Sri Mulyani mengaku cuma bertanggung jawab terhadap dana bailout sebesar Rp3 triliun karena itulah yang diputuskan dalam posisinya sebagai ketua KSSK. Lalu Rp3 triliun yang lain diselundupkan oleh siapa dan mengalir ke mana?

KPK tidak boleh menjadi benteng yang membuat proses penelusuran skandal Century oleh Pansus DPR yang telah terang-benderang berubah menjadi dark number. Anggota pengawas dari DPR, yang telah menyepakati dokumen politik Century, tidak boleh mengkhianati apa yang mereka putuskan sendiri bahwa bailout Century sarat manipulasi.

Karena itu, kita hanya bisa menerima kalau pertemuan tertutup panitia pengawas Century di kantor KPK ialah dalam rangka memuluskan penyelidikan. Di luar alasan itu tidak.

Adalah kejahatan luar biasa bila pertemuan di ruang tertutup itu untuk menyepakati upaya mengubur Century ke dalam ruang gelap gulita.

(Editorial Media Indonesia, 7 Juli 2011)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s