Apa Kabar Pak Presiden?

Presiden Joko Widodo menumpang pesawat Hercules untuk menuju Pangkalan Bun dan ke Surabaya, Selasa (31/12/2014). - KOMPAS
Presiden Joko Widodo menumpang pesawat Hercules untuk menuju Pangkalan Bun dan ke Surabaya, Selasa (31/12/2014). – KOMPAS

Apa kabar Pak Presiden? Semoga Anda selalu sehat dan senantiasa dalam perlindungan Tuhan Yang Kuasa.

Lama juga saya tidak menulis tentang anda. Terakhir saya menulis mengenai Anda sehabis pidato yang menggetarkan di depan forum APEC CEO akhir tahun lalu.

Kala itu Anda memanfaatkan forum APEC CEO Summit di Beijing untuk menawarkan peluang investasi pembangunan infrastruktur yang terkait konektivitas di Tanah Air. Sekitar 500 pemimpin perusahaan terkemuka dari 21 negara di Asia Pasifik tampak antusias dengan paparan Anda pada forum itu, Senin (10/11/2014) pagi.

Dalam forum itu, Anda berpidato tanpa teks, tetapi menyampaikan presentasi dalam bahasa Inggris dan memanfaatkan presentasi di layar lebar yang menampilkan grafis peta Indonesia serta data statistik sebagai penunjang. Itulah paparan perdana Anda di forum internasional sebagai Presiden yang dipuji banyak orang. Anda menyampaikan secara singkat dan jelas.

Begitulah cara Anda berbahasa, menggunakan cara dari definisi bahasa yang paling sederhana, yakni menyampaikan pesan yang terlintas di dalam hati untuk berinteraksi guna menyampaikan pikiran, gagasan, konsep, dan perasaan.

Sepanjang pidato, nyaris tak ada bumbu-bumbu basa-basi, kecuali saat Anda menunjuk sebuah foto jamuan makan di saat Anda sedang bernegosiasi dengan para pemilik tanah yang dilewati jalan tol lingkar luar Jakarta.

Setelah itu, pada Senin malam, 17 November 2014, anda muncul kembali untuk mengumumkan kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM). Sayang disayang, sehabis pengumuman ini, Anda seperti membiarkan keadaan dan tidak ada upaya untuk megendalikan harga-harga kebutuhan pokok yang terus melambung.

Maka tak heran, jika popularitas Anda langsung melorot, seperti yang dirilis oleh Lingkaran Survei Indonesia Denny JA (LSI) yang merilis hasil survei pasca-kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi. Dalam survei itu publik kota lebih tak puas dengan kerja anda Pak.

Tercatat publik di desa yang puas sebanyak 47.95 persen, yang tidak puas 44.52 persen, sedangkan yang tidak tahu 7.53 persen. Sementara publik di kota yang puas 35.56 persen, tidak puas 40.00 persen, sedangkan yang tidak tahu 24.44 persen.

Gara-gara naiknya BBM, rakyat pun terbelah menjadi beberapa kelompok. Ada yang langsung menolak dan melakukan aksi unjuk rasa, ada yang mencoba memahami sembari berharap kondisi ekonomi akan membaik, ada yang cuek saja, tapi ada juga yang menjadikan kebijakan menaikkan BBM ini sebagai tambahan amunisi untuk menembaki Anda.

Golongan terakhir itu secara terbuka di berbagai media menganggap langkah dan gebrakan Anda menciptakan peningkatan di banyak sektor. Cuma, peningkatan yang dimaksud oleh pengritik anda justru bermaksud untuk menyindir anda. Misalnya, gara-gara kenaikan BBM, Anda dibilang telah berhasil meningkatkan harga transportasi dan harga kebutuhan pokok secara signifikan.

Lalu,  meningkatnya harga listrik telah sukses menempatkan Indonesia sebagai negara dengan tarif listrik termahal. Begitu juga dengan meningkatnya harga gas elpiji ukuran 12kg mampu menaikkan harga elpiji ukuran 12 kg tersebut ke angka Rp 134.700. Disusul meningkatnya harga tiket Kereta Api Ekonomi  sebesar 400 persen.

Oleh kenaikan harga barang, transportasi, dan tingginya biaya penggunaan energi inilah, anda dinilai berhasil menempatkan kehidupan rakyat ke tingkat penderitaan yang lebih tinggi hhingga membuat rakyat Indonesia benar-benar semakin tercekik.

Maaf Pak Presiden, anda sepertinya mendiamkan aneka kritik itu. Sampai-sampai pengamat politik anggaran, Uchok Sky Khadafi mengaku heran dengan sikap Anda yang tidak peduli dengan berbagai kritik terhadap berbagai kebijakannya yang dinilai menyengsarakan masyarakat.

Bahkan menurut Uchok, seperti dikutip JPNN, anda masih bisa cengengesan meski saat ini masyarakat hidup susah karena berbagai kebijakannya yang tidak pro-rakyat.

“Saya heran, semakin banyak masalah yang dihadapi masyarakat, Jokowi semakin cengengesan. Tidak ada empati yang dia berikan terhadap susahnya kehidupan rakyat karena berbagai kebijakan yang diambilnya. Kebijakan menaikan harga BBM yang membuat harga-harga kebutuhan melonjak seperti tidak dirasakannya, padahal  masyarakat sudah menjerit,” kata Uchok kepada wartawan di Jakarta, Selasa (6/1/2014).

Sinisme itu tak cuma dari para pakar, tapi juga dari kaum politisi, terutama dari pengritik setia Anda, Fahri Hamzah. Wakil Ketua DPR RI itu bilang, selama 100 hari kerja pemerintahan saat ini dipenuhi tinta merah, alih-alih menunjukkan prestasi membanggakan walau hanya satu bidang bahkan secara menyeluruh disebut mengecewakan.

***

Apa kabar Pak Presiden? Sudah berhari-hari saya tidak menemukan senyum dan kehangatan Anda. Tempo hari, pas pergantian tahun, saya sungguh berharap Anda muncul di kerumunan massa dan menyapa mereka yang sedang merayakan pergantian tahun, seperti saat Anda masih menjabat gubernur DKI Jakarta. Kala itu, Anda dan Wagub Ahok turut meramaikan kirab budaya utuk menyambut datangnya tahun baru 2014.

Tapi ternyata kali ini anda memilih pulang ke kampung halaman di Solo, Jawa Tengah, Rabu sore, 31 Desember 2014 untuk menghabiskan malam tahun baru di sana bersama keluarga.

Ya,  ya, saya sepakat dengan pernyataan Anda di laman Facebook. “Hendaknya malam pergantian tahun baru dari 2014 menuju 2015 dirayakan dengan sederhana saja, tidak usah berlebihan mengingat musibah yang menimpa saudara-saudara kita di Banjarnegara, Pasar Klewer Solo dan Pesawat Air Asia QZ 8501. Kesederhanaan kita di tahun baru adalah cerminan kita untuk berbagi rasa dan empati terhadap musibah yang terjadi, seraya berdoa pada Tuhan agar kita diberikan kebaikan-kebaikan di dalam hidup pada tahun depan.”

Anda baru nampak kembali keesokan harinya, saat  membuka perdagangan pasar di sektor riil dan keuangan perdagangan saham di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), dan sebelumnnya menyempatkan berkunjung ke pasar Tanah Abang.

“Pertama saya sudah buka, pintu besarnya di Tanah Abang. Dengan seluruh Menteri dan Gubernur, di sana pusat perdagangan, produk seluruh Tanah Air, dan pusat perdagangan ekspor,” ujar Anda, saat memberi sambutan pembukaan perdagangan saham di gedung BEI, Jakarta, Jumat (2/1/2015).

Pada acara pembukaan perdagangan saham, Anda juga memberikan sambutan di depan para pelaku pasar modal serta menyampaikan  komitmen pemerintah untuk mempermudah izin investasi dan  mendorong semua pihak untuk tetap optimistis terhadap ekonomi Indonesia ke depan dengan kebijakan yang dilakukan pemerintah tersebut.

Begitulah Anda belakangan ini, lebih banyak muncul pada acara-acara seremonial. Seorang kawan bahkan sempat berujar, “Mana nih gebrakan Jokowi?”

Maksud “gebrakan” itu adalah gerakan atau tindakan yang berkait langsung dengan kepentingan orang banyak, atau bangsa. Ya, seperti saat anda berpidato di acara APEC itu, atau seperti ketika Anda datang ke Sinabung di Tanah Karo, Sumatera Utara, Rabu (29/10/2014) yang disambut haru dan antusias oleh ribuan warga Karo. Anda menemui warga korban letusan Gunung Sinabung yang setahun lebih terpaksa hidup di pengungsian.

Acara seremoni berikutnya Anda lakukan dengan mendatangicrisis center korban hilangnya pesawat Air Asia QZ8501 di Bandara Juanda, Sidoarjo, Jawa Timur, Selasa (30/12/14).  Sebelum tiba di crisis center Bandara Juanda, anda sempatkan terbang meninjau perairan sekitar Pangkalan Bun dengan menaiki pesawat C-130 Hercules milik Angkatan Udara. Jokowi bertolak ke perairan Pangkalan Bun sekitar pukul 17.00 WIB.

Pada Sabtu (3/1/2015), anda terlihat mendapat sambutan yang luar biasa dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Monas untuk memenuhi undangan Majelis Rasulullah,  Majlis taklim yang didirikan Habib Munzir Al Musawa guna mengikuti acara Maulid Nabi.

Di hadapan jamaah Majelis Rasulullah, Anda mengatakan bahwa apabila umat Muslim mengikuti dan meneladani akhlak Nabi Muhammad SAW maka dalam kehidupan sehari-hari tidak akan ada tawuran atau perkelahian antarpemuda atau antarkampung.

Selanjutnya, Anda menggelar Sidang Kabinet Paripurna di Kantor Kepresidenan, Jakarta, Rabu (7/1/2015). Dalam pertemuan yang dihadiri sejumlah Menteri Kabinet Kerja, Kapolri Jenderal Sutarman, dan Kepala BIN Marciano Norman, anda sempat menyinggung tentang peran media dalam kinerja Kabinet.

“Semua tahu, kita selalu dipotret, selalu diikuti dan selalu dinilai oleh media. Meskipun perlu saya sampaikan ekspos media belum tentu mewakili kinerja pemerintahan. Namun media sebagai pembawa pesan akan bentuk persepsi dan image terhadap kinerja pemerintah,” kata Anda memberi sambutan pada Sidang Kabinet Paripurna, di Kantor Presiden, Jakarta, Rabu (7/1/2015).

Anda menyatakan, kinerja pemerintahan saat ini tengah mendapat pengawasan ketat oleh media. Hasil potret media, menurut anda, membentuk berbagai persepsi atas aktivitas-aktivitas pemerintahan, sehingga kebijakan pemerintahan dapat dipandang dari berbagai sudut pro dan kontra. Terkait hal itu, Anda mengaku telah menggunakan mesin intelijen manajemen untuk menganalisis 343 media nasional. Namun, Anda tak mengatakan bagaimana hasil analisisnya dalam rapat tertutup tersebut.

Maka, jika pagi ini saya menyapa Anda, sebutlah ini sebagai pengawasan ketat. Semata karena saya masih hormat dan sayang kepada Anda. Semata karena saya ingin Anda lebih peduli kepada rakyat dengan tidak membiarkannya dalam kesengsaraan akibat harga-harga kebutuhan yang mencekik leher.

@JodhiY

Sumber: Kompas.com, 10/1/2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s