Partai Demokrat di Persimpangan Jalan

PARTAI DEMOKRAT sekarang berada di persimpangan jalan, berada dalam situasi kritis. Bukan tidak mungkin, jika salah membuat keputusan dalam situasi kritis tersebut, Partai Demokrat justru akan bubar dan sejarah Indonesia pun mencatat, sebuah partai fenomenal yang memenangi dua pemilu berturut-turut hanya berumur pendek.

Situasi kritis macam apa yang sedang dihadapi Partai Demokrat? Tidak main-main, pemimpin mereka, Ketua Umum Anas Urbaningrum, ”dihajar” kanan-kiri karena diduga terlibat kasus korupsi. Anas banyak disebut setelah tersangka kasus wisma atlet SEA Games di Palembang, M Nazaruddin, yang juga bekas Bendahara Umum Partai Demokrat ”bernyanyi” mengungkap nama Anas dalam kasus yang menjerat dirinya.

Citra Partai Demokrat pun terpuruk selama beberapa waktu terakhir. Situasi itu menggelisahkan kader Partai Demokrat. Pemilu tinggal dua tahun lagi dan pemberitaan buruk mengenai kasus korupsi wisma atlet SEA Games di Palembang yang diduga melibatkan Anas menyulitkan partai untuk mendapatkan dukungan besar dari publik.

Maka, tidak aneh rasanya jika sekarang muncul desakan kuat agar Anas mengundurkan diri demi partai. Namun, di sisi lain, jalan keluar dari situasi sulit yang dihadapi Partai Demokrat rasanya juga tidaklah sesederhana itu.

Desakan agar Anas mundur informasinya berasal dari dalam organ penting di dalam partai, yakni Dewan Pembina. Maka, pada akhirnya, keputusan berada di tangan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) selaku Ketua Dewan Pembina.

Kegelisahan di internal partai cukup tinggi sehingga pada awal pekan ini ada informasi yang menyebutkan sejumlah besar anggota Dewan Pembina berkumpul, di Jakarta, untuk membahas situasi kritis yang dihadapi partai, tetapi tidak mudah untuk mengambil keputusan. Semuanya pun dikembalikan kepada Yudhoyono, yang juga Presiden RI.

Pengamat politik Hanta Yudha menilai, posisi Yudhoyono sangat dominan di dalam partai. Berbeda dengan Partai Golkar yang setiap faksinya bersifat independen, faksi-faksi di tubuh Partai Demokrat tidak independen. ”Faksi-faksi yang ada tetap menjadikan SBY sebagai patron. Ini yang membedakan partai itu dengan Partai Golkar yang masing-masing faksinya independen, terpisah, dan mandiri,” ujarnya.

Dengan latar belakang semacam itu, sulit rasanya melihat bahwa pertemuan sejumlah kecil anggota Dewan Pembina di kediaman Yudhoyono, di Cikeas, Jawa Barat, Selasa malam lalu, merupakan pertemuan rutin. Entah apa sebenarnya yang dibahas di Cikeas, tidak ada orang selain mereka yang hadir yang bisa memberi jawaban pasti.

Namun, satu hal yang pasti, Yudhoyono memegang peranan krusial. Ia dituntut oleh sejarah untuk mengambil keputusan penting terkait krisis yang dialami Partai Demokrat. Salah memilih, Partai Demokrat bisa bubar.

Orang di luar mungkin dengan mudah akan mengatakan, Anas sebaiknya diminta mundur. Namun, benarkah persoalannya dapat diselesaikan sesederhana itu? Ada hal lain yang dipertaruhkan jika betul penyelesaiannya sesederhana itu. Seperti ada pepatah, menangkap ikan tanpa membuat airnya keruh, atau bagaimana menarik benang dalam tepung tanpa harus membuat tepungnya berhamburan.

(A Tomy Trinugroho)

Sumber: Kompas 26 Januari 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s