Editorial KOMPAS: Betapa Istimewanya Corby

Dihibur saudara perempannya, Mercedes setelah pingsan di Pengadilan - The Australian
Dihibur saudara perempannya, Mercedes setelah pingsan di Pengadilan – The Australian

BELUM ada terpidana narkoba sebahagia dan seistimewa Schapelle Leigh Corby. Hari kebebasannya mengglobal. Kisahnya akan difilmkan.

Begitu dibebaskan bersyarat dari penjara, Corby tinggal di vila bertarif Rp 9 juta per malam. Seperti diberitakan news.com.au, televisi Australia, Channel Seven, dikabarkan menandatangani kontrak dengan Corby untuk wawancara khusus dan program lain dengan nilai kontrak 5 juta dollar Australia atau setara dengan Rp 54,1 miliar. Pembebasan Corby menarik perhatian dunia.

Corby ditangkap di Bandara Ngurah Rai karena kedapatan membawa 4,2 kilogram ganja. Jaksa menuntut hukuman seumur hidup. Namun, majelis hakim PN Denpasar menjatuhkan hukuman 20 tahun. Corby banding dan pengadilan banding mengurangi hukuman menjadi 15 tahun. Corby mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung dan MA mengembalikan hukuman Corby menjadi 20 tahun, begitu juga saat Corby mengajukan peninjauan kembali.

Sudah empat tingkat peradilan dilalui Corby. Artinya, sudah 12 hakim memeriksa kepemilikan ganja Corby. Dari 12 hakim itu, sembilan hakim pada tingkat pertama, kasasi, dan PK sepakat tetap memvonis Corby dengan hukuman 20 tahun penjara.

Jalur hukum kandas, Corby berjuang melalui jalur politik. Jalur diplomasi ditempuh Australia, permintaan ampun kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pun diambil. Presiden Yudhoyono memberikan grasi dan mengurangi hukuman dari 20 tahun menjadi 15 tahun. Kementerian Hukum dan HAM pun memberikan diskon hukuman dan terakhir memberikan pembebasan bersyarat. Corby bebas bersyarat sejak 10 Februari 2014. Dia menjalani hukuman kurang dari separuh vonis MA.

Bukti 4.1kg marijuana (ganja) disita dari bagasi Corby oleh petugas Bandara Ngurah Ray  2004 - The Australian
Bukti 4.1kg marijuana (ganja) disita dari bagasi Corby oleh petugas Bandara Ngurah Ray 2004 – The Australian

Publik dan DPR bereaksi keras. Delapan anggota DPR mengirim petisi keberatan pemberian pembebasan bersyarat. Sejumlah anggota Komisi Hukum DPR ancang-ancang membentuk panitia kerja menyikapi inkonsistensi pemerintah memerangi penyalahgunaan narkoba. Politik domestik gaduh. Di tempat lain, Corby berbahagia menikmati kebebasannya. Penandatanganan kontrak untuk komersialisasi kisahnya tentu bisa dipersoalkan secara etis.

Reaksi publik itu wajar dan menuntut jawaban. Selama ini, publik mendengar bagaimana sikap Presiden Yudhoyono terhadap penyalahgunaan narkoba. Saat peringatan Hari Antinarkoba, 26 Juni 2011, Presiden mengatakan, penyalahgunaan narkotika dan obat-obatan berbahaya yang terus meningkat menjadi ancaman serius bangsa. Pencegahan dan pemberantasan narkoba tidak cukup dengan cara biasa. “Kita harus lebih agresif dan ambisius lagi memberantas narkoba,” kata Presiden.

Penjelasan pemerintah melalui Menteri Hukum dan HAM bahwa pemberian grasi dan pembebasan bersyarat atas nama Corby “sesuai dengan prosedur” amatlah tidak mencukupi. Butuh penjelasan yang lebih menyeluruh di balik kebijakan pemberian grasi dan pembebasan bersyarat Corby.

Sumber: Kompas 12/2/2014

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s