Inflasi Jilbab

Jilbab Polri yang kontoversial dan akhirnya ditunda
Jilbab Polri yang kontoversial dan akhirnya ditunda

oleh: Sarlito Wirawan Sarwono *)

Baru-baru ini saya menghadiri sebuah upacara serah-terima jabatan di suatu instansi pemerintah, di mana semua pegawai di kantor itu hadir. Saya lihat semua pegawai wanita berjilbab seragam, yang warnanya serasi dengan warna pakaian seragam instansi itu.

Rapi sekali tampaknya, menambah kekhidmatan upacara. Tetapi tiba-tiba saya melihat wajah yang saya kenal. Di balik jilbabnya, saya tahu pasti dia adalah istri dari seorang kawan saya, Kris, yang saya tahu pasti nonmuslim. Saya jadi bertanya-tanya dalam hati, sejak kapan mereka menjadi mualaf? Karena penasaran, pertanyaan batin ini saya tanyakan langsung kepada yang bersangkutan di kesempatan ramah-tamah, minum kopi/teh sambil mengudap risol dan lemper, sambil berdiri.

Setelah berbasa-basi sebentar (dia masih ingat saya sebagai teman suaminya jaman Penataran Manggala P4 di tahun 1998), saya bertanya, ”Kapan kalian jadi mualaf?” ”Ah, enggak kok, kami bukan mualaf,” jawabnya. ”Lho, kok pakai jilbab?” saya tambah penasaran. ”Nggak apa-apa. Di sini semuanya harus berjilbab.” ”Termasuk yang nonmuslim juga?” ”Ya, semua. Kawan-kawan saya yang Islam, yang di luar tidak berjilbab, di kantor pun berjilbab. Kami yang bukan muslim, ya ikut saja, apa susahnya?”

”Ada peraturan tertulisnya? SK atau apa, begitu,” saya masih penasaran terus. ”Nggak juga, sih. Tetapi kebiasaannya di sini begitu, ya ikut saja,” jawabnya santai. ”Oooh…gitu. Ya sudah, salam sama Kris, ya,” saya menutup percakapan dengan basa-basi lagi.

”…. ya ikut saja,” begitu katanya, tetapi tidak ada rasa galau, apalagi stres di wajah istri Kris itu. Dia santai saja. Malah saya yang stres. Bagaimana tidak stres, istri saya (ibu dari tiga anak saya) berkerudung, dan anak saya (ibu dari dua orang cucu saya) berjilbab, sama dengan istrinya Kris itu. Tetapi cuma kerudungnya yang sama, bukan orangnya. Padahal, seharusnya jilbab itu mencerminkan derajat ketakwaan tertentu yang lebih tinggi dari pada yang belum/tidak berjilbab.

Di pihak istri Kris, tidak ada masalah, dia santai saja. Pulang dari kantor jilbab pun dilepas, karena dia berjilbab hanya demi kariernya atau nafkahnya. Hampir pasti juga, ibu-ibu karyawati muslimah yang hanya ber-Jibaku (ber-JILBAB demi kantorKU), akan buka jilbab dulu di toilet sebelum pulang naik motor atau angkot. Ini artinya jilbab palsu, di luarnya jilbab, isinya bukan orang yang berjiwa jilbab. Apa namanya kalau bukan ”jilbab palsu”.

Sebagaimana halnya dengan uang, makin banyak uang palsu yang beredar, maka orang akan makin tidak percaya pada nilai uang, nilai tukar uang makin rendah, sehingga akhirnya bisa mata uang itu tidak laku lagi sebagai alat tukar. Itulah yang disebut dengan inflasi.

Begitu juga dengan jilbab, semakin banyak yang palsu, semakin turun nilainya, alias terjadilah inflasi jilbab. Padahal sekarang ini, perempuan-perempuan terdakwa dan terpidana KPK pun rata-rata berjilbab juga. Ujung-ujungnya, lama-kelamaan orang akan tidak percaya pada jilbab sama sekali.

Yang lebih mengkhawatirkan adalah bahwa inflasi jilbab ini tampaknya sudah lama berjalan seiring dengan inflasi simbol agama lainnya. Ketika para ustad terlibat penipuan dan tindakan kriminal lainnya sehingga ditahan oleh polisi, para pegawai Departemen Agama terlibat korupsi pengadaan Alquran, ketua dan aktivis parpol terlibat gratifikasi dan main perempuan, ada juga yang lihat-lihat pornografi melalui gadget-nya di ruang sidang DPR, maka semakin hilanglah kepercayaan kepada simbol-simbol agama, yang pada saatnya nanti bukan tidak mungkin akan menghilangkan kepercayaan orang terhadap agama itu sendiri. Audhubillahi mindzalik.

Karena itu, sudah saatnya kita harus lebih mengurangi kampanye atau sosialisasi agama (dalam bahasa Islam: dakwah) yang sifatnya hanya menekankan pada simbol-simbol agama saja. Di balik simbol-simbol agama itu, mudah sekali terjadi kepalsuan atau pemalsuan. Dakwah kita harus lebih menukik pada moral dan perilaku agama itu sendiri yang intinya adalah kasih sayang.

Dalam psikologi, kasih sayang bersumber pada empati. Dengan empati, orang bisa merasakan perasaan orang lain, penderitaan atau kebahagiaan orang lain, sakitnya orang lain, semangatnya orang lain atau keputusasaan orang lain dsb. Sehingga orang tidak akan menyakiti atau merugikan orang lain, karena ia sendiri pun tidak mau disakiti atau dirugikan. Ia senang menolong dan membahagiakan orang lain, karena ia pun senang kalau ditolong dan dibahagiakan.

Sayang sekali, di tengah maraknya dakwah agama, kita sudah makin jarang memerhatikan anak-anak kita, menegurnya dengan kata-kata sayang, memeluknya dan menceritakan dongeng pengantar tidur, bahkan makan bersama pun sudah hampir tidak pernah. Kalaupun ada salat bersama, itu pun setelah dikejar-kejar dan diancam-ancam, barulah anak-anak mau berkumpul.

Padahal yang diperlukan anak-anak hanyalah sapaan yang penuh cinta. Jangan lupa, sapaan penuh kasih dari orang tua ke anak, adalah kepanjangan sapaan kasih Allah kepada anak itu. Tanpa sapaan penuh kasih dari orang tua, akan tertutup kemungkinan untuk anak merasakan sapaan kasih dari Allah.

Jangan heran kalau anak-anak ini menjadi kriminal kalau kelak dewasa, bahkan ada yang sudah membunuh temannya sendiri pada saat masih murid SD.

*) Sarlito Wirawan Sarwono ; Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia

Sumber: Koran Sindo, 11/05/14

Juga baca:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s