Daya Kritis dan Survivalitas PKS

oleh M Alfan Alfian

Pada 16-20 Juni 2010 Partai Keadilan Sejahtera menggelar musyawarah nasional II di hotel mewah The Ritz-Carlton, SCBD, Jakarta. Pemilihan tempat tampaknya terkait dengan upaya partai ini menaikkan citra sebagai partai menengah ke atas, partai Islam yang modern.

Musyawarah nasional (munas) kali ini tak segegap gempita kongres Partai Demokrat, tetapi justru menunjukkan ketenangan partai ini. Soal regenerasi kepemimpinan, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) tampak memilih tidak perlu ramai-ramai.
Sejak kehadirannya pada Pemilu 1999 dengan nama Partai Keadilan, dan kemudian pada Pemilu 2004 menjelma menjadi PKS, kehadirannya termasuk sangat fenomenal. PKS menyalip semua partai Islam dan bertahan pada ranking atas. Pada Pemilu 2009, PKS memperoleh 8.206. 955 suara (7,9 persen) setara dengan 57 kursi (10 persen) di DPR. Realitas inilah yang membuat PKS cukup diperhitungkan.

Daya kritis

Sejak 2004, PKS memosisikan sebagai partai pendukung pemerintah. Inilah yang menyebabkan mobilitas vertikal kader-kadernya di pemerintahan terjamin. Meskipun demikian, kepada publik PKS ingin tetap menunjukkan signifikansi daya kritisnya. PKS mampu memainkan ruang manuver untuk mengkritisi berbagai kebijakan walaupun pada akhirnya merapat kembali pada suara politik versi pemerintah.

Dalam kasus Bank Century, PKS termasuk yang kritis. Bersama Partai Golkar dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP), PKS memilih bersuara layaknya kubu oposisi. Di sisi lain, PKS juga menunjukkan tak mau larut dalam gagasan politik Golkar—di mana ketua umumnya merupakan Ketua Harian Sekretariat Gabungan Partai Koalisi—tentang perlunya dana aspirasi.
Manuver politik PKS memang kerap membuat resah kubu Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), tetapi keberadaannya di koalisi pemerintahan masih tetap dibutuhkan. Apalagi, pendekatan politik kubu SBY atas Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan gagal. PKS termasuk kekuatan politik yang melanggar prinsip koalisi ngono yo ngono ning ojo ngono, untuk menggambarkan bahwa manuvernya sering dinilai ”kebablasan”.

Selama ruang manuver tersedia lebar bagi PKS di lingkungan koalisi, PKS akan terus berupaya mempertinggi daya kritisnya. Dengan menjaga tingkat popularitasnya di wilayah pengambilan keputusan atau kebijakan politik level atas, sesungguhnya PKS tengah melakukan upaya mempertahankan konstituennya.
Namun, manakala manuver dilakukan tanpa perhitungan saksama, ia dapat menjadi bumerang bagi PKS sendiri. Publik dapat dengan mudah mempertanyakan konsistensi PKS manakala manuver-manuver politiknya tidak lagi dapat dipahami basis argumentasinya.

Survivalitas

Di level infrastruktur tentu partai ini telah berkembang. Upaya untuk mengikat konstituennya tidak saja dilakukan dengan pendekatan ideologis, tetapi juga dengan beragam aktivitas sosial. Partai ini telah menjadi partai kader, yang tampaknya, sejak munas I telah sadar akan strategi merambah atau melebarkan sayap untuk menyerap lebih banyak dukungan di luar lingkup pasar terbatas mereka. Ideologi Islam ditawarkan sebagai bukan penghalang bagi yang lain atau eksklusif, tetapi lebih banyak diterjemahkan sebagai pro-masalah-masalah sosial dan kemanusiaan.

Survivalitas PKS antara lain tergantung pada militansi kader- kadernya, daya ikat konstituennya, dan daya pikat ke potensi- potensi pendukung suara baru. Yang terakhir itulah yang tampaknya bakal menjadi fokus ke depan. Survivalitas PKS tampak akan berjalan lurus dengan inklusivitas, bukan eksklusivitas politik. PKS harus menjadi partai yang beyond the symbol.

Model partai politik berbasis pendukung Muslim di negara berpenduduk mayoritas Muslim tetapi ideologi negaranya bukan Islam yang cukup berhasil adalah Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) di Turki. Partai bersimbol lampu bohlam ini mampu memikat mayoritas pendukungnya, menjadi partai yang memerintah, justru karena pendekatannya yang lebih substansif, mampu menawarkan program memikat. Akan tetapi, tampaknya juga karena adanya sosok pemimpin karismatik, Recep Tayyip Erdogan.

PKS tampak akan bergerak ke ”pendekatan substansif”, tetapi sayangnya belum tampak sosok internalnya yang cukup menonjol secara karismatik. KH Hilmi Aminuddin (Ketua Majelis Syuro PKS), Tifatul Sembiring (Menkominfo), Hidayat Nur Wahid (mantan Ketua MPR), M Anis Matta (Sekjen PKS), atau Luthfi Hasan Ishaaq (Presiden PKS) seolah-olah masih merupakan tokoh-tokoh internal partai saja.

Transformasi tokoh dari ”milik PKS” menjadi ”milik semuanya” merupakan tantangan bagi partai ini dalam rangka melebarkan sayap.

M ALFAN ALFIAN Dosen Pascasarjana Ilmu Politik Universitas Nasional, Jakarta

Sumber: Kompas 16/06/2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s