Dilema Politik Dua Kaki (PKS)

ipr_131018_PKS_28

oleh AA GN Ari Dwipayana *

Partai Keadilan Sejahtera bukan partai muda lagi. Dalam 12 tahun usianya, PKS yang awalnya didirikan sebagai Partai Keadilan pada tahun 1998 akan menghadapi dilema pilihan untuk tetap menjadi partai ideologis dengan logika representasi basis pendukung yang kuat atau berkembang menjadi partai elektoralis yang berupaya memburu suara sebanyak mungkin dalam setiap momen elektoral. Dua pilihan yang kadang kala sulit didamaikan.

Dalam wacana akademik, dilema ini dikonseptualisasi sebagai pertarungan dua logika yang selanjutnya memengaruhi perilaku partai antara logika representasi pendukung dan logika kompetisi (Kitschelt:1989). Dalam logika representasi pendukung, tingkah laku partai yang dipengaruhi oleh kepentingan pendukung utamanya. Itu artinya, tingkah laku sebuah partai bisa dimengerti dari kepentingan dan karakteristik pendukung utamanya.

Sementara itu, dalam logika kompetisi, tingkah laku partai yang dipengaruhi oleh keinginan partai untuk memenangi pemilu. Ikatan dengan pendukung menjadi penting sepanjang itu ada hubungannya dengan proses pemenangan pemilu. Ke mana arah pasar pemilih, ke sanalah partai diarahkan.

Pilihan dua logika

PKS tidak terlepas dari pergumulan itu. Pada awalnya, partai ini didirikan dengan logika representasi pendukung, terutama untuk mewadahi aspirasi politik kalangan aktivis gerakan dakwah kampus yang tersebar di kawasan urban.

Sebagai wadah politik gerakan dakwah, tingkah laku partai sangat diwarnai dengan tipe partai massa dengan menekankan pada konsistensi ideologis, membangun organisasi yang kuat dan menggelar sistem kaderisasi yang sistematis. Gerak partai juga disangga oleh basis pendukung utamanya, tentu saja berasal dari kelas menengah santri perkotaan. Dengan penekanan logika representasi ini, Partai Keadilan berhasil memperoleh 1,36 persen popular vote dan 1,51 persen kursi di parlemen nasional dalam Pemilu 1999.

Pasca-Pemilu 1999, terlihat mulai terjadi pergeseran di PKS, dari logika representasi pendukung ke arah logika kompetisi. Ketika persaingan antarpartai yang semakin ketat, di tengah penurunan suara dari partai-partai Islam, PKS muncul dengan wajah baru. Logika pasar politik menjadi sesuatu yang mulai dipertimbangkan. Kemasan mulai dipikirikan. Wajah partai sebagai partai dakwah ”dipoles” disesuaikan dengan ekspektasi dan aspirasi pemilih yang mulai merindukan partai yang bersih, kredibel, dan profesional.

Secara kalkulatif, tentu saja pilihan untuk mengubah citra partai menjadi berbeda merupakan pilihan yang rasional karena pilihan itu akan bisa memperluas basis pendukung. Konsekuensinya, karakter partai ideologis secara perlahan bergeser menjadi partai yang mulai sensitif pada pasar politik dengan cara memoderasi tuntutan transformasi ideologisnya dan mulai berusaha menjangkau pemilih di luar pendukung asalnya.

Ketika PKS lebih menekankan logika kompetisi membuat tipe partai politik mengarah pada tipe partai pemburu suara (vote seeking) atau sering juga disebut tipe catch-all party. Selanjutnya tipe pemburu suara akan berpengaruh pada tingkah laku partai, terutama pada model rekrutmen partai yang cenderung bergerak ke pola survival.

Dalam pola survival, perekrutan politik didasarkan dan diarahkan pada politisi yang memiliki sumber finansial yang kuat dan memiliki basis massa yang potensial mendulang suara dalam pemilu. Dengan bekerjanya pola perekrutan itu, PKS menjadi semacam ”keranjang besar” dari berbagai segmentasi politisi yang memiliki latar sosial-politik yang beragam. Dalam pilihan semacam ini, PKS bukan lagi sepenuhnya menjadi milik para pendukung tradisionalnya.

Komplikasi politik

Pilihan untuk menekankan strategi memburu suara bukannya tidak memunculkan komplikasi politik baru. Perubahan wajah partai ke arah catch all-party tentu akan menimbulkan reaksi dari basis pendukung tradisionalnya. Reaksi yang muncul beragam, mulai dari munculnya suara keras untuk kembali ke watak partai ideologis sampai pada pilihan untuk meninggalkan partai dalam pemilu. Dari luar, reaksi internal ini dibaca sebagai pergulatan yang semakin tajam antardua kubu dalam tubuh PKS: kubu idealis-ideologis dengan kubu pragmatis-realistis (Kompas, 15/6).

Walaupun terjadi pergulatan tajam dua kubu, sepertinya PKS memiliki cara untuk mengelola persaingan internal ini. Satu yang pasti adalah masih kuatnya posisi dan pengaruh Dewan Syura dalam dinamika partai. Presiden PKS sangat mudah untuk berganti, tetapi Ketua Dewan Syura tidak pernah tergantikan. Hal ini bisa menjadi jawaban atas masih terjaganya perimbangan kekuatan antarfaksi. Dan, ini sekaligus menjadi penjelas bagi wajah lain PKS, yang satu sisi tampak memiliki organisasi partai yang profesional, tetapi di sisi lain lokus kekuasaan sesungguhnya masih memusat.

Walaupun politik dua kaki masih bisa dikelola, tetap saja pertaruhannya soal kredibilitas partai, yang tampak dari penilaian publik atas wajah partai di parlemen dan pemerintahan. Di satu sisi, dengan cara kerja catch-all party akan memperoleh insentif politik berupa suara yang dibawa oleh politisi dari berbagai segmen yang direkrutnya. Namun, di sisi lain, PKS menghadapi persoalan ketika politisi yang diambilnya ternyata tidak kredibel. Ketika terjadi problem pada kredibilitas politisinya, hal ini justru menjadi diinsentif politik buat PKS.
Selain itu, sejalan dengan rumusan ideologi partai yang semakin cair dan di mana kerja sama dengan mitra koalisi menjadi sebuah keharusan, sangat mudah PKS terjebak dalam politik kartel. Ketika sebuah kartel politik terbentuk, secara perlahan perilaku partai lebih berorientasi pada upaya memonopoli sumber-sumber daya ekonomi-politik yang dikuasai oleh negara dan menciptakan sebuah lingkungan legal yang mendukung partai yang berkuasa, tetapi mendiskriminasikan pesaing baru.

Sekali lagi kredibilitas partai kembali dipertaruhkan.

*AA GN Ari Dwipayana Dosen Politik dan Pemerintahan UGM

Sumber: Kompas 17/10/2010

Juga baca:

Politik Dua Muka (PKS)

Daya Kristis dan Survivalitas PKS

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s