Apakah ISIS picu pemikiran kembali nilai-nilai Islam?

Ratu Rania dari Yordania mengatakan pertempuran melawan Negara Islam (IS) melibatkan aspek ideologi.

Pembunuhan brutal pilot Angkatan Udara Yordania, yang dibakar sampai mati oleh kelompok militan Negara Islam, membuat pandangan umat Muslim di dunia terbelah.

Aksi ini bukan hanya menuai kecaman yang luas, namun ada juga yang mendukung dan membenarkan tindakan IS, sebagian orang menganggap bahwa aksi balas dendam kelompok itu berdasarkan pada prinsip-prinsip Al-Quran.

Banyak orang menanyakan di sejumlah surat kabar dan media sosial, apakah tindakan kekerasan yang dilakukan IS membuat orang memikirkan kembali tentang Islam yang ditafsirkan dalam dunia modern.

Wartawan BBC untuk urusan sosial, John McManus meneliti pemikiran tentang kekerasan dalam dunia Islam.

Tingkat kebrutalan yang ditampilkan IS mencapai babak baru dengan diperlihatkannya tayangan video yang diunggah secara daring oleh kelompok ini dan menunjukkan Letnan Muath Al-Kaseasbeh dibakar hidup-hidup dalam sangkar besi.

Hal ini tidak hanya memicu kemarahan di seluruh Timur Tengah, tapi juga sejumlah pertanyaan tentang bagaimana IS menggunakan ajaran Islam untuk berperang, dan apakah sudah waktunya untuk memikirkan kembali bagaimana Islam ditafsirkan dalam dunia modern.

Hidah Hizam menuangkan komentar pedas dalam surat kabar Aljazair, Al-Fadjr. “Jangan katakan Islam itu bersih, para psikopat dan orang gila yang menafsirkan semua ajaran dengan mentalitas mereka membuat Islam menjadi tidak bersih. Lalu ia mengatakan bahwa Islam perlu dibebaskan dari gagasan-gagasan ‘gila’.

Bahkan surat kabar milik pemerintah Mesir, Al-Ahram, berkomentar lebih jauh dengan mengatakan kematian Letnan Al-Kaseasbeh menunjukkan kesalahpahaman tentang Islam.

Penjahat dan pembunuh

Surat kabar itu mengatakan selama berabad-abad fatwa dalam literatur Islam memuat “gagasan-gagasan yang bisa diterima di masa lalu harus dimurnikan agar tidak bertentangan dengan esensi Islam”.

Komentar yang dimuat surat kabar Al-Ahram tidak dapat dipisahkan dari gejolak politik baru-baru ini di sana, dan keberadaan Ikhwanul Muslimin oleh Presiden Abdel Fattah-al Sisi.

Mereka juga terbuka terhadap perdebatan yang berkembang tentang Islam.

Pada Forum Ekonomi Dunia bulan Januari, Presiden Sisi menyerukan umat Islam untuk berpikir lagi tentang agama mereka.

“Islam, agama dengan nilai-nilai toleransi yang dianut oleh lebih dari satu miliar pengikut, tidak harus dinilai melalui tindakan kriminal dan pembunuh,” katanya.

Al-Azhar menyerukan kelompok militan IS untuk disalibkan.

“Kami, sebagai umat Muslim, harus mencari reformasi dan mengevaluasi kembali perspektif kami sehingga kaum minoritas tidak mendistorsi sejarah kami.”

Ratu Rania dari Yordania mengatakan hal yang serupa kepada BBC bahwa pertempuran militer negaranya dengan IS hanya salah satu aspek dari pertarungan.

“Ini adalah proses jangka panjang, kita harus melawannya pada berbagai tingkatan, ada tingkat keamanan – militer – tetapi juga kami berkomitmen pada pertempuran ideologi.

“Ini bukan Islam dan kami akan terus menekankan bahwa, kami harus merebut kembali agama kami dari orang-orang ini.”

“Literalisme Mengerikan”

Negara Islam (IS) tentunya tidak sepakat dengan apa yang dikatakan Ratu Rania.

Menurut sejarawan Inggris Tom Holland, kaum Islamis melihat diri mereka sebagai reformis agama yang sebenarnya, mengupas tradisi berabad-abad yang tidak perlu, untuk mengungkapkan kebiasaaan dan pesan agama Islam yang benar.

“Saya pikir apa yang IS lakukan berpotensi menghancurkan dasar-dasar Islam” kata Holland.

“Mereka menerapkan literalisme Alquran dan Sunnah dalam tingkat menakutkan.

“Islam adalah budaya yang canggih, di dalamnya tumbuh sejumlah analisis, filsafat dan ulama.

“Tapi sumber-sumber yang mereka gunakan bukan dari dari Nabi Muhammad.”

Kendati Jenderal al-Sisi menyerukan umat Islam untuk berpikir lagi tentang agama mereka, namun mayoritas agama Islam di Mesir masih memegang batasan-batasan .

Sebagai contoh, penulis Fatima Naoot baru-baru ini diadili, dengan tuduhan menghina Islam, setelah ia merasa keberatan dengan ritual pengorbanan hewan yang dipraktekkan selama perayaan Idul Adha.

Pembunuhan Letnan Al-Kaseasbeh mendorong kepala pusat pengajaran bergengsi kaum Sunni, Al-Azhar, mengeluarkan sebuah deklarasi yang mencolok.

Imam besar Ahmed al-Tayeb, mengatakan, sesuai ajaran Quran. IS pantas menerima hukuman seperti disalib, atau dipenggal anggota tubuh mereka.

Pernyataan ini dikecam banyak kaum Muslim, karena dinilai sangat biadab, namun Salem abd Aljalil dari Al-Azhar membela pernyataan sang imam, dan mengatakan kepada BBC bahwa hukuman itu pas.

“Itu adalah balasan setimpal untuk tindakan jahat ” katanya, mengutip dari Al-Quran.

“Itulah yang dikatakan Allah. Jika seseorang melakukan kejahatan, ia harus dihukum dengan cara yang sama. Jika seseorang melakukan kejahatan terhadap kemanusiaan, dia harus dihukum dengan cara yang sama.

Apakah ada bukti, bahwa masyarakat Muslim biasa prihatin tentang keberadaan agama mereka dalam masyarakat kontemporer?

Pekan lalu program BBC Arabic Talking Point menanyakan para penonton apakah para ulama sudah melakukan upaya yang cukup untuk menantang sejumlah gagasan IS.

Beberapa diantaranya dengan tegas menjawab tidak – dan bahkan mungkin bertanggung jawab untuk kondisi saat ini.

Gerakan ekslusif

Suzanne Ezzat, mengatakan: “Para ulama tidak tertarik dalam modernisasi konsep agama dan tetap berada dalam lingkup yang ketat dan interpretasi kaku yang ditetapkan oleh pendahulunya.

“Interpretasi ini ternoda dengan rekayasa yang mengotori sifat agama kita yang penuh pengampunan.”

Ashraf Hindi mengamati, “Lembaga keagamaan telah dijinakkan, sehingga satu-satunya tujuan mereka adalah mendukung rezim dan membuat jubah yurisdiksi yang hanya akan berguna dalam masyarakat beragama.”

Bisakah ketidakbahagiaan itu berubah menjadi semacam gerakan reformasi?

Ya, kata Hassan Hassan, seorang analis dari Delma Institute yang berbasis di Abu Dhabi.

Dia mengatakan beberapa orang menginginkan perubahan, namun kaum Islamis telah tersandera agenda dan berpindah dengan cara lain.

“Ketika orang berbicara tentang Ummah (masyarakat Islam) – perdebatan itu, di mana umat Islam menganggap diri mereka sebagai satu golongan, sekarang usang.

“Para Islamis melihat diri mereka di barisan depan Ikhwan al-aqeeda -Ajaran Persaudaraan”

Asumsi masa lalu bahwa setiap orang ‘adalah Muslim’ – terlepas dari perilaku mereka – ditantang oleh ideologi ini.

“Kriteria (siapa yang dan bukan Muslim) telah digunakan berabad-abad, dan karena itu menjadi, gerakan politik yang eksklusif.”

Hassan mengatakan hal itu telah membuat Islam moderat menjadi defensif.

Dan dengan konflik yang terjadi di Suriah, Libya, Irak dan Yaman, tampaknya tidak ada seorang pun yang memiliki waktu dan energi untuk melawan kembali gagasan-gagasan itu.

Sumber: BBC Indonesia, 10/2/2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s