Eks Tapol: Usung Kejayaan Orba, Golkar Putar Balikkan Sejarah

Sejumlah eks-tahanan politik mengadu ke Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Selasa (18/2/2014) terkait perlakuan diskriminatif ormas dan aparat kepolisian di Semarang, Jawa Tengah
Sejumlah eks-tahanan politik mengadu ke Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Selasa (18/2/2014) terkait perlakuan diskriminatif ormas dan aparat kepolisian di Semarang, Jawa Tengah

Bedjo Untung, salah satu korban kekerasan 1965-1966 tak habis pikir dengan kampanye yang dilakukan Partai Golkar sambil menggembar-gemborkan kejayaan rezim Orde Baru. Masih melekat dalam ingatannya, kejahatan rezim itu yang telah membunuh teman-temannya dan membuatnya harus mendekam selama 9 tahun di penjara tanpa melalui proses pengadilan.

“Saya mau bilang, Soeharto itu penjahat negara yang sudah merusak dan membunuhi teman-teman saya. Saya adalah representasi korban penjahat tahun 1965. Kalau disebut zaman Soeharto lebih enak, ini memutarbalikkan sejarah. Nyawa sangat murah di masa orde baru,” ujar Bedjo saat ditemui di Kompleks Parlemen, Rabu (19/2/2014).

Bedjo ditangkap dalam Operasi Tim Kalong pada 24 Oktober 1970 saat dirinya bekerja di salah satu pusat perbelanjaan ternama saat itu, Sarinah. Bedjo tiba-tiba saja diseret Tim Kalong yang dikomandoi Letnan Suprapto dan langsung dijebloskan ke dalam bui. Gara-garanya, Bedjo dituduh bagian dari Partai Komunis Indonesia akibat keterlibatannya dalam Ikatan Pelajar Pemuda Indonesia (IPPI). IPPI ketika itu mendukung kebijakan Soekarno soal Nasionalis, Agama dan Komunis (Nasakom).

Menurut Bedjo, jika Golkar hendak mengusung kejayaan Orde Baru seharusnya partai ini membantu proses pengungkapan kebenaran yang terjadi dalam rezim itu, dan bukannya menutupi-nutupi sejarah. Selain itu, Bedjo mengakui Partai Golkar juga perlu meminta maaf atas kekejaman rezim Orde Baru jika ingin kembali mengungkit masa itu.

“Dengan mengusung Soeharto, Golkar masih menunjukkan dirinya bagian dari Orde Baru. Saya suarakan, partai itu jangan dipilih,” ujar Bedjo.

Di usianya yang kini senja, Bedjo terus berjuang mencari keadilan. Dia menjadi Ketua Yayasan Penelitian Korban 1965-1966. Hanya satu harapannya, pemerintah dan negara harus menggelar persidangan atas kasus penculikan hingga pembunuhan yang terjadi pada masa Orde Baru.

“Walau pun Soeharto sudah meninggal, kami meminta agar ada peradilan in absentia karena kami korban 1965 merasa betul-betul menjadi korban yang sia-sia. Selama itu belum diadili, tidak akan ada kebenaran yang terungkap,” ucap pria yang pernah mendekam di penjara Salemba, Cikokol, dan Gunung Sahari itu.

Golkar dan Orde Baru

Partai Golkar belakangan ini mulai menyinggung soal kejayaan Orde Baru. Ketua Umum DPP Partai Golkar Aburizal Bakrie alias Ical bahkan meminta kader Partai Golkar sekaligus anggota organisasi massa yang berafiliasi di dalamnya untuk tidak malu mengakui kalau Golkar berjaya pada era Orde Baru.

Bahkan, Ical meminta mereka untuk bangga dengan masa kepemimpinan Soeharto. “Kalau ada orang tanya, Anda Orde Baru? Jawab ‘ya’,” kata Ical saat berpidato di acara Pelantikan Pengurus Kosgoro 1957 di Kantor DPP Golkar di Jakarta, Senin (10/2/2014) malam.

Menurut Ical, Orde Baru tidak selamanya negatif. Bahkan, Ical menilai, Orde Baru memiliki banyak nilai positif dibandingkan zaman Reformasi. Satu-satunya hal yang kurang baik dari Orde Baru, kata dia, adalah pemerintahan yang otoriter dan tertutup kepada media dan publik. Selebihnya, Orde Baru memiliki dampak positif.

“Kalau kita malu mengakui itu, kita takut mengakui itu, maka harapan yang ditangkap rakyat akan ditangkap partai lain. Jangan takut bilang Golkar Orde Baru,” ujarnya.

Salah satu bukti bahwa zaman Orde Baru adalah zaman yang positif, ucap Ical, adalah dengan munculnya baju dan stiker Soeharto dengan tulisan “Enak Jamanku To?” Menurutnya, baju dan stiker tersebut adalah bukti kerinduan masyarakat terhadap sosok Soeharto dan Partai Golkar.

“Itu bukan Golkar yang membuatnya. Itu masyarakat sendiri yang buat, dan laku dijual kerinduan terhadap Pak Harto. Kerinduan terhadap Golkar sudah ada,” pungkasnya.

Sumber: Kompas.com 19/2/2014

Juga baca:

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s