Dilema Sang Pencambuk dalam Penegakan Hukum Syariah di Aceh

  • oleh Richard C Paddock
Sang pencambuk menunjukkan cambuk rotannya. – WSJ
Richard C. Paddock/The Wall Street Journal

Tiga kali sudah ia mengenakan jubah hitam panjang, tudung kepala, dan topeng sebelum melesatkan tongkat rotannya ke punggung pelanggar hukum. Ia mengaku tidak ingin menyakiti mereka, melainkan mempermalukan pelanggar hukum di hadapan publik dan membersihkan dosa-dosanya agar diterima di surga.

Pada usia 43 tahun, ia adalah penyelidik bagi Wilayatul Hisbah, polisi agama di provinsi Aceh dan satu dari sedikit orang yang ditugasi mencambuk di bawah hukum Syariah. Ia sepakat bicara dengan The Wall Street Journal selama identitasnya tetap disembunyikan. Ia mengaku takut dibalas mereka yang telah dicambuknya.

“Tujuannya untuk mempermalukan orang tersebut,” katanya. “[Pencambukan] harus dijadikan sebagai peringatan. Penonton akan tahu jika orang ini bisa dicambuk, maka dia bisa jadi berikutnya. Intinya bukan untuk menyakiti fisik orang itu.”

Aceh adalah satu-satunya propinsi di Indonesia yang diijinkan menerapkan hukum Syariah—yang telah dipakai dalam 10 tahun terakhir usai tsunami besar Samudra Hindia, 26 Desember 2004.

Menurut Amnesty International, sejauh ini lebih dari 150 orang telah dicambuk di hadapan publik sejak 2010 lantaran berjudi, minum alkohol, atau khalwat—bergumul dengan lawan jenis. Organisasi non-profit itu menyebut pencambukan di Aceh “keji, tidak berperikemanusiaan, dan menurunkan derajat manusia.” Pencambukan juga dinilai melanggar kewajiban hak asasi manusia internasional yang diemban Indonesia.

Ilustrasi: Seorang penegak hukum Syariah mencambuk pelaku perjudian di Banda Aceh, 19 September 2014. – WSJ

Dengan 95% penduduk beragama Islam, Aceh dikenal sebagai provinsi yang paling taat beragama di Indonesia, negara Islam terbesar di dunia. Hukum Syariah ditetapkan di Aceh setelah propinsi itu menerima otonomi khusus yang diberikan oleh pemerintah pusat guna mengakhiri pemberontakan kelompok separatis, Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Praktiknya meluas berdasarkan kesepakatan damai antara Jakarta dengan GAM yang ditandatangani pada Agustus 2005.

Penganut Islam konservatif ingin menyebarkan Syariah ke wilayah Indonesia lain. Namun pengamat menilai hal itu tidak mungkin terjadi mengingat sebagian besar orang Indonesia adalah Muslim moderat. Selain itu, perluasan Syariah harus disepakati di parlemen.

September silam, pemerintah provinsi Aceh mengesahkan undang-undang yang meningkatkan hukuman maksimum menjadi 100 pecutan, memperluas pemberlakuan Syariah bagi non-Muslim, serta menetapkan homoseksual dan perselingkuhan sebagai tindak pidana.

Sang pencambuk menunjukkan cambuk rotannya.
Pencambuknya, dengan bobot hampir 125 kg, adalah figur yang mengintimidasi saat sedang bertugas. Hanya matanya yang terlihat. Panjang cambuknya satu meter dan hanya dia yang dapat mengayunkannya dengan keras.

Ia mengaku telah memecut orang tiga kali. Dua pelaku adalah pria yang ketahuan tidur dengan perempuan lain yang bukan istrinya. Masing-masing dicambuk delapan kali. Prosesnya terbuka bagi warga dan digelar di masjid-masjid di seluruh Aceh yang biasanya dihadiri massa dalam jumlah besar.

Ia mengerem kekuatannya dengan membayangkan ia sedang mencambuk anaknya. Ia berlatih dengan bantal agar tidak memukul terlalu keras atau lemah.

“Katakanlah saya ayah yang terganggu dengan anaknya, karena si anak membuat jengkel,” katanya. “Itu yang saya pikirkan, bahwa saya memukul anak saya. Saat saya mencambuk seseorang, saya tak punya kebencian apapun di hati saya.”

Ia menerima tugas mencambuk pelanggar hukum karena itulah pekerjaannya, tetapi ia mengaku tidak menyukainya. Ia justru terlihat seperti pria yang lembut. Ia cemas jika orang yang pernah ia cambuk tahu siapa sosok di balik topeng, mereka akan balas dendam.

“Selama pencambukan, saya tahu mata anggota keluarga mereka akan tertuju pada saya,” katanya. “Mereka akan melihat saya. Saya tahu mereka ingin tahu siapa saya. Saya takut mereka akan mengikuti dan menyerang saya.”

Ia berada di Banda Aceh saat tsunami 2004 dan mencari aman bersama keluarganya. Rumahnya hancur. Tiga belas anggota keluarga istrinya meninggal. Ia melihat tangan Tuhan dalam kehancuran itu.

“Itu adalah ujian bagi iman kami, berapa banyak yang bisa kami hadapi,” katanya.

Marzuki M. Ali, kepala investigasi dan penegakan hukum Wilayatul Hisbah, mengatakan ekspansi hukum Syariah berarti anggarannya naik sekitar 10 persen per tahun.

Ia sadar bahwa orang kaya Aceh bisa lolos dari hukum Syariah, mungkin dengan melakukan pelanggaran di hotel bintang lima di luar Aceh.

“Tidak ada orang kaya yang telah dihukum,” kata Marzuki. “Mereka punya cara agar tidak tertangkap.”

Sumber: WSJ Indonesia 26/12/2014

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s