Menguji Integritas Politikus

Wakil Gubernur (Wagub) DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, menjadi buah bibir setelah pada Rabu (10/9) mengaku sudah menyiapkan surat pengunduran diri sebagai anggota Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra). Salah satu alasannya adalah kekecewaan terhadap sikap Gerindra yang ingin mengembalikan pemilihan kepala daerah (pilkada) kepada mekanisme pemilihan oleh DPRD.Sikap Ahok ini jelas memancing kejengkelan di jajaran pemimpin Gerindra. Ahok dibilang tak tahu berterima kasih, seperti “kacang yang lupa kulit”.

Ketua Gerindra Jakarta, Muhammad Taufik, menyilakan Ahok mundur sambil menyebutkan, jika RUU Pilkada yang memasukkan mekanisme pilkada lewat DPRD disahkan, Ahok nantinya harus mundur dari jabatan Gubernur DKI Jakarta, setelah Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo, melenggang ke Istana Negara.

Sementara itu, Wakil Ketua Umum Gerindra, Fadli Zon bahkan menuding, Ahok tak beretika, tak berkontribusi untuk Gerindra, dan “kutu loncat.”

Namun, bukan Ahok namanya kalau ia jeri dengan tudingan-tudingan tersebut. Baginya, pilkada lewat DPRD tidak menunjukkan perilaku demokratis karena kepala daerah nantinya tidak lagi sibuk mengurus rakyat, tapi malah sibuk melayani anggota DPRD. Ia menilai, pilkada lewat DPRD mengembalikan Indonesia ke era Orde Baru.

Saat politikus Gerindra menuding sikap Ahok hanya mencari panggung agar bisa loncat ke partai lain, Ahok mengatakan kepada wartawan, ia tak akan berpindah partai, tapi bakal berkonsentrasi mengurus persoalan Jakarta. Ia juga tak peduli kalau tak akan terpilih lagi dalam periode selanjutnya.

Sebagian orang menyayangkan sikap Ahok yang terlalu gegabah menanggapi kontroversi RUU Pilkada yang kini tengah dibahas di DPR. Namun, tak sedikit pula yang mendukung.

Di jaringan media sosial, gerakan #saveAhok digalang. Mereka melihat yang dilakukan Ahok menunjukkan integritasnya sebagai politikus dan wagub yang dipilih rakyat.

Ahok, tanpa memperhitungkan jabatannya yang mungkin hilang, menyampaikan kepada publik bahwa ia mengakui hak rakyat memilih kepala daerah yang baik. Ia tidak ingin publik dibuat bingung dengan permainan “para elite politik” yang mengatasnamakan demokrasi.

Ia adalah saksi dan contoh hidup bagaimana seorang warga negara dengan status minoritas di Indonesia—sebagai keturunan Tionghoa dan beragama Kristen—dipercaya rakyat memimpin Jakarta bersama Jokowi. Ia tak ingin menyangkal kepercayaan rakyat yang datang ke bilik suara dan memberikan suaranya untuknya dan Jokowi. Bukan DPRD yang memilih ia dan Jokowi, melainkan rakyat, satu orang satu suara.

Dalam konteks ini, kita mengapresiasi yang dilakukan Ahok. Hal yang dilakukan Ahok justru menjadi pemantik sekaligus “batu uji” bagi para politikus lain, apakah perdebatan mereka yang berbusa-busa tentang RUU Pilkada benar-benar dilandasi niat baik untuk membuat demokrasi Indonesia lebih baik atau sekadar manuver pascapemilihan presiden (pilpres)?

Dalam iklim demokrasi, perbedaan pendapat adalah sah. Ahok, produk dari pilkada langsung, berhak menyampaikan pendapat dan menyatakan sikap politiknya karena ia mencoba bersikap konsisten. Sementara itu, para politikus Gerindra pun berhak menuding Ahok sebagai “Malin Kundang” karena sikapnya dianggap menikung partai.

Kita sebagai warga negara juga berhak menuntut integritas para politikus. Partisipasi publik yang cukup masif dalam Pilpres 2014 yang baru saja berlalu menunjukkan, rakyat bukan sekadar kerbau yang dicucuk hidung. Mereka juga bukan rimbunan rumput kering yang bisa disulut isu SARA. Mereka berjejaring, membuat komunitas, dan membangun kerja sama untuk menumbuhkan kesadaran bernegara dan berbangsa.

Demokrasi, konsep yang kita bangun pelan-pelan sejak tumbangnya Orde Baru, telah membuahkan hasil. Bukan sekadar hiruk-pikuk—yang dikhawatirkan para pengkritiknya akan menyeret Indonesia pada chaos—tapi juga “orang-orang baik.”

Hanya dalam tempo 16 tahun setelah gerakan Reformasi bergulir, kita mampu mengganti kekuasaan dan transisi demokratik tanpa pertumpahan darah. Terakhir, pelaksanaan Pilpres 2014 yang menghadap-hadapkan Jokowi dan Prabowo Subianto juga berlangsung mulus, meski diwarnai hiruk-pikuk dari kubu koalisi parpol pendukung Prabowo.

Namun, kekhawatiran masyarakat dan dunia bahwa ketidakpuasan Prabowo atas kemenangan Jokowi memicu amuk seperti 1998, mengingat latar belakang Prabowo sebagai tentara dan mantan menantu Soeharto, tidak terjadi.

Hanya dalam rentang 16 tahun setelah kejatuhan Soeharto, Indonesia berhasil mereformasi diri sebagai negara yang demokratik, bahkan terdepan dibandingkan negara lain di kawasan Asia Tenggara. Indonesia juga menjadi rujukan keberagaman karena sebagai negara dengan penduduk mayoritas muslim terbesar di dunia, negeri ini tidak berminat membangun khilafah Islam.

Bahwa ada yang mesti dibenahi dari sistem demokrasi , termasuk pelaksanaan pilkada langsung, tentu kita sepakat. Hal yang mesti dibenahi antara lain sikap para elite yang terkadang susah menerima kekalahan dan keributan di antara para pendukungnya, juga soal pemborosan anggaran pelaksanaan pilkada.

Namun, mendesakkan pilkada lewat DPRD adalah langkah mundur demokrasi. Ahok, wakil kepala daerah hasil pemilihan langsung, lantang mengatakan itu. Ia bukan jenis “kutu” yang “meloncat” dari suara rakyat yang memberinya amanah langsung. ***

Juga baca:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s